Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan

Masokis

Oleh: Dodi Faedlulloh

Kerja dalam atmosfer kapitalisme adalah alienasi. Detik per detik dan setiap keringat yang keluar adalah eksploitasi karena para pekerja dicuri nilai lebihnya. Tapi alineasi itu bisa menjadi sekedar rasa. Toh, banyak dari pekerja yang turut ikhlas dari memiliki sense of belong yang tinggi terhadap perusahaan. Jadi apapun kerjanya, seberapa lama lemburnya itu hanyalah secercah proses pencarian rezeki. Bagi para sang kritis, inilah yang disebut-sebut sebagai kesadaran palsu. Semangat yang menggebu para pekerja tak lain merupakan bentuk kesadaran yang telah termanipulasi sedemikian rupa.

Bagi orang-orang yang paham dengan hal ikhwal kesadaran palsu ini bila bertemu dengan kerja maka yang tercermin adalah penderitaan. Di balik penderitaan itu kadang ada perlawanan dari pekerja, baik terorganisir maupun sendiri-sendiri, untuk merubah. Merubah dengan menciptakan retakan-retakan kecil sambil berharap ada revolusi tiba.

Pergeseran Paradigma

Oleh: Dodi Faedlulloh

Konon kehidupan pasca kampus mau tidak mau akan memaksa sang sarjana untuk kompromi dengan dunia yang dihadapinya. Dulu yang kerap berteriak lantang ini-itu mulai memelankan suaranya. Semacam siklus yang sering terjadi tiap jaman. Imajinasi kolektif bernama real life telah “memenjarakan” semangat muda. Mungkin diktumnya berubah: Untuk bertahan hidup maka berkompromilah! Tentang hal ini, saya sering melihatnya. Setelah lulus sarjana 2011 lalu, pemandangan demikian kerap saya saksikan sendiri dari wisuda satu ke wisuda berikutnya. Kebetulan saat mahasiswa, saya "tersesat asyik" dalam lingkaran gerakan-gerakan mahasiswa. Setidaknya saya mengenal teman-teman secara personal. Jadi bila ada perubahan sedikit sikap dan pikiran dari mereka, tampak jelaslah bagi saya.

Beruntunglah, sejauh saya amati teman-teman aktivis yang satu era dengan saya di kampus, tidak ada yang sampai, dalam bahasa gerakannya, “melacurkan intelektualnya.” Paling banter hanya terjebak dalam dunia baru yang dihadapi: dunia kerja di perbankan, finance, media, jualan dsb.  Jadi orientasi berputar lebih banyak terporsir soal mencari uang. Ya, ketika mahasiswa banyak membicarakan tentang uang, maka setelahnya kini harus dituntut untuk mencarinya. Tapi dalam suasana informal tak jarang setelah berlelah kerja obrolan soal filsafat, sosial, politik, dan semacamnya tetap menjadi menu penghangat pertemuan. Mungkin porsinya saja tentu yang tidak sebesar saat masa-masa kuliah dulu. Masih ada sedikit Kant, Marx, Lenin, Habermas, Zizek, Badiou. Iya, sedikit.

Imajinasi Sang Anak

Sumber: www.saatini.com
Oleh: Dodi Faedlulloh

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan salah seorang guru saya tentang apresiasi kreatifitas anaknya yang mampu membuat ilustrasi kapal terbang plus detail pernik yang diperlukan kapal itu agar laik terbang. Lebih mantapnya, sang anak mengandaikan gambar ciptaannya itu bisa dilihat langsung oleh presiden. Saya klik satu per satu gambar sang anak yang diupload via blog sang ayahanda. Walau gambar tersebut dalam komposisi yang irasional, terlepas dari hal tersebut, saya tetap takjub melihatnya. Imajinasi yang luar biasa.

Membaca narasi guru saya itu, ingatan saya kembali ke awal tahun 90an, flashback saat-saat saya masih laik berpredikat unyu. Saya masih ingat betul seorang tetangga sering menyebut saya sebagai si dalang. Gelar tersebut saya dapat karena hampir tiap hari di teras rumah, saya bermain ‘orang-orangan’ (mainan karakter manusia) sambil bercerita, dilengkapi dialog dan tentunya aksi-aksi.

Si Uni dan Blognya

Oleh: Dodi Faedlulloh

Dari keisengan saya membuka blog-blog secara random, tahu-tahunya malah mengklik blog milik Uni. Sebenarnya saya pernah membaca beberapa postingan dari blognya itu, tapi belum pernah seksama. Mumpung ada waktu kosong saya menyempatkan membaca satu per satu postingannya, ada kelucuan, polos, dan karakter hebohnya cukup tercermin dalam aksara-aksara yang ia rangkai. Saya tersenyum, sambil bernostalgia membayang bagaimana si Uni sebelum akhirnya kenal dengan saya saat bazar buku waktu tiga tahun lalu.

Di balik keceriaan huruf-huruf yang kadang tak tersusun secara rapi itu, saya menyibak ada beberapa haru yang ia temui. Salah satunya saat ia tidak berhasil masuk seleksi SMPTN dan bersua ragu harus berkuliah di kota yang baru dikenalnya: Purwokerto. Namun kembali saya temukan kecerian saat memulai Ospek. Yang membuat saya suka dari cerita yang ia sampaikan, selalu muncul nada optimis. Nada-nada optimis tersebut dirangkainya sampai sekarang ia kuliah tingkat akhir.

Ketika Sang Ayah Mencintai Anaknya

Oleh: Dodi Faedlulloh

Seorang pemimpin keluarga harus bisa membuat keputusan, walaupun tak jarang pelik yang mendalam selalu menyajikan dilematika-dilematikanya. Hal tersebut pun hari-hari ini dirasa oleh seorang lelaki berumur 40 tahunan. Sebut saja namanya Sucipto. Sebagai seorang pria, suami dan juga ayah, ia harus jeli dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan kehidupan keluarganya. Biasanya ia bekerja di sebuah perusahaan sebagai street level bureaucracy. Tak banyak memang yang ia dapatkan dari pekerjaannya tersebut, namun ia selalu bersyukur dan percaya Tuhan akan selalu memberi yang terbaik bagi keluarganya.

Skenario hidup agak berbelok. Kehidupan ekonomi yang pas-pasan memaksa sang istri harus hijrah ke luar negeri. Dan anak-anaknya harus di tinggal, mau tak mau. Istri Sucipto kini termasuk dari jutaan penduduk Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri. Terpaksa karena di tanah-airnya sendiri, negara tidak bisa memberikan peluang kesejahteraan bagi rakyatnya. Lebih-lebih sekarang, negara justru riang melepas baju tanggung-jawabnya dengan mencabut subsidi BBM.

Bertahan untuk Menyerang

Oleh: Dodi Faedlulloh 

Teks ini bertutur tentang realitas. Bukan diktum idealita dari buku-buku kampus yang berjejal teori A sampai Z. Didengar-dengar ini seakan mirip anekdot, serangan-serangan tempo dulu tak berbunyi nyaring, bahkan tak bisa dibunyikan lagi. Bisa karena baterai sang pengisi energi habis atau memang mesinnya itu sendiri yang sudah rusak bahkan diganti. Dialih-fungsikan tepatnya. Hati untuk berontak menjadi hati yang bersabar.

 Bertemu dengan awak-awak muda memang menyenangkan, karena medan perjuangannya relatif longgar. Bisa kritik ini-itu, gas dan rem kapan saja. Variabel kehidupannya masih terbatas dan kesempatan berpikir cerdasnya masih luas, walaupun memang jumlahnya tidaklah banyak. Karena hari ini sebagian besar dari mereka yang disebut muda-mudi itu lebih memilih hingar bingar, namun mengkritik bukan main kepada rekan-rekannya yang bergulat berani menyerang sistem. Biasa, tradisi kelas menengah ngehe. So ngeritik tapi tidak tahu diri. Saya sering bertemu dengan tipekal demikian, dulu bahkan sampai sekarang, tapi mereka tidak tepat untuk diserang balik, biarkan karena kualitas suaranya tidak signifikan. Ya, walau bila ada kesempatan sesekali memberi irama khutbah tidaklah salah. Ini soal syiar. 

Quality Time


Oleh: Dodi Faedlulloh

Akhirnya ada waktu yang bisa disenggangkan. Momen tahun baru yang saya bidik sebagai waktu bertemu keluarga akhirnya kecapai. Hari itu kami berjemaah touring bersama kawan seperjuangan Alfin, , Sukma dan dengan sedikit keberanian saya membawa sang pacar, Fetty ke Tasikmalaya. Sudah cukup lama saya tidak melakukan perjalanan jauh menggunakan motor, hal ini yang membuat saya mudah pegal dalam perjalanan. Namun nuansa perjalanan itu mengingatkan saya kembali ke awal-awal masa kuliah. Jika ada masa-masa libur, saya pasti touring bareng kawan seperjuangan. Sebuah memoar yang asyik!

Bete An Sich

Merisaukan, entah ada apa dalam kepala. Dari tadi terus berkeliling tanpa teraba dan tertebak apa itu. Bebankah atau semacam rasa bete hinggap di otak. Satu gelas es kopi nan unyu rasa strawberry habis tak bersisa, namun sesak itu masih ada. “Kurang nikotin,” ujar teman saya masuk di mention. Gelisah sih tidak, tapi lelah cukup ada. Perasaan baik saya memberi penjelasan mungkin karena efek bergadang bermain olah jari. Itu yang saya amini 17 jam ini. Makanya hari ini saya memilih berdiam di ruang kosan.

 Bete menjadi pengganggu psikologis objektif, berdiri sendiri, seperti yang saya rasa dari seharian ini. Saya sendiri tidak bisa mendefinisikannya itu apa, yang jelas menghantui perasaan dan idea. Mungkin menyebut perasaan ini bête pun bisa saja keliru. Bila bête berelasi dengan kebosanan, atau mungkin malah sisi lain dari bosan itu sendiri, tapi hari ini saya sama sekali tidak merasa bosan. Biasa saja.

Penghuni Terakhir

Oleh: Dodi Faedlulloh

Ini cerita yang sama. Seperti 2-3 tahun lalu, di Bulan Ramadhan saya selalu menjadi penunggu terakhir di ruang kosan. Tanggal 15 Agustus, H-3 menuju lebaran risalah ini ditulis cuma ditemani gurauan angin dan buku Penghancuran PKI-nya Olle Tornquist, karena tepat siang tadi dua kawan kosan terakhir beranjak pergi ke Yogya, bermudik ria.

Ada yang membedakan puasa kali ini; pertama tentu status. Sudah delapan bulan ini saya meninggalkan kemahasiswaan saya, tapi predikat anak kosan, atau tepatnya seperti kelakar kawan saya, Wildan, kaum miskin kosan masih melekat. Beda halnya dengan kakak saya yang jauh lebih sukses, saat usianya sama dengan usia saya sekarang, sang inspirator ini sudah memiliki rumah sendiri ditambah sukses menikah di usia muda. Saya masih berdomisil di Purwokerto, ketika banyak satu generasi saya sudah kembali ke kota asal, mencari penghidupan di kantor-kantor finansial. Sedang saya masih berbangga menjadi pengurus di salah satu koperasi di kota satria ini. 

Jembatan Gantung

Oleh: Dodi Faedlulloh

Merasa digantung memang tidak nyaman. Benar juga curhatan beberapa sahabat yang pernah merasa digantung oleh pacarnya. Beraneka ragam kejadian, ada yang digantung dengan status tapi perliaku sama sekali tidak seperti pacaran, acuh tak acuh. Ada pula yang digantung tanpa status, si dambaan hati memberi perhatian yang luar biasa tapi tak pernah member kepastian. Atau mengutip liriknya Slank, “kamu sempurna waktu lampu mati, tapi patah saat bicara soal hati”. Masing-masing memiliki bentuk kesakitan dan level berbeda dalam merasakan bagaimana rasanya saat digantung perasaan. Tapi initinya digantung sama dengan sakit.

Saya pun sekarang demikian, tapi maaf kasusnya berbeda. Ini bukan tentang cinta-cintaan atau penggalauan. Ini tentang perjuangan kecil dari seorang pembelajar yang ingin melanjutkan studinya. Pasca wisuda saya mencoba melakukan aplikasi beasiswa dari lembaga tertentu untuk melanjutkan kuliah di S2 di salah satu magister administrasi publik. Ya, linear dengan concern jurusan sebelumnya di S1, administrasi negara. Salah satu prasyarat harus diterima di salah satu pascasarjana. Saya pun ikut tes yang sebelumnya sudah menyerahkan segala rupa perlengkapan arsip administrasi. Bersyukur tes berhasil, dan LoA pun terbit sebagai bukti saya sudah diterima di pascasarjana tersebut.

Tentang Kehormatan : “Simpati” untuk Gadis Ibu Kota

Oleh : Dodi Faedlulloh

Saya tampaknya sempat terjebak dan terpeleset dalam mindset generalisasi. Produk kultur dalam epos hari ini biasanya adalah homogenitas, seolah berpenampilan paling beda tapi justru yang hadir malah keseragaman, bahkan di luar kesadaran awam, terbentuk secara sistematis, atau bahkan, bisa saja terorganisir  rapi dari pihak yang mengendalikan. Zaman terus berubah, semangat akulturasi, namun malah menjadi celah meng-evolusi budaya diri, lambat laun akhirnya gerbong modernitas menjadi punggawa. Moderintas yang seragam tentunya. Jadi bukannya akluturasi, yang ada proses menyampingkan budaya diri lalu semangat berbondong-bondong menuju budaya kekerenan.

Modernitas ini memunculkan kompromitas dan permisifitas, yang dulu dicegah sekarang tidak bisa berbuat apa-apa. “Harus gimana lagi? Zaman sudah berubah,” statement yang sering keluar dari bibir-bibir manusia modern. 

Emosi dan Toleransi

Refleksi 30 November

Oleh : Dodi Faedlulloh

Rasa marah tiba-tiba memuncak, padahal sore itu masih lenggang. Saya pun tidak benar-benar sibuk, namun sudah meniatkan untuk berisitirahat. Angan-angan bersantai ria di sore hari sebelum nonton bola, kiranya seperti itu.

Padahal suasana sempat hangat, canda-tawa dan gempita menemani di tengah obrolan saya dan dia di kampus, depan pintu ruang enam. Entah apa yang merasuki, saat dia minta waktu menunggu satu jam lagi, karena dia ada pertemuan, yang dilanjutkan diskusi di ruang yang berbeda, saya mulai merasa tidak nyaman. Saya sempat menolak untuk menunggu, namun dengan intonasi tinggi plus laku berpaling muka, saya mengurungkan niat untuk pulang. Angan-angan bersantai setelah siang hari berpanas-panas ria mencari kontrakan tampaknya harus dipending. Agenda accindental sore itu bernama menunggu. Oke, cuma satu jam kok. 

Kursi VIP

Oleh : Dodi Faedlulloh

Ada deretan 5 kursi paling berbeda di depan tribun Stadion Soesilo Soemarjan Unsoed. Tampaknya kursi-kursi tersebut memang dikhususkan untuk para pejabat kampus Fakultas yang sesuai dengan rencana akan melakukan pembukaan Dekan Cup yang dimulai tanggal 14 November, yakni pertandingan sepak bola antar fakultas dalam menyambut diesnatalis FISIP Unsoed ke 26. Deretan kursi tersebut menarik perhatian saya, padahal ada banyak kaum hawa yang berpenampilan elok berdatangan menyaksikan pertandingan, saya sebagai kaum adam bisa saja memfokuskan diri untuk agenda cuci mata, tapi tidak saya lakukan. Bukan hanya karena datang bersama pacar, tapi deretan kursi biru yang dipersiapkan khusus itu cukup memalingkan dunia saya. Pertanyaan dalam hati yang sempat hadir, “Kenapa harus ada kursi itu, padahal kursi tribun di depan masih banyak yang kosong dan bisa dikondisikan ?”.

Kursi VIP, saya menyebutnya. Sebagaimana yang diketahui, VIP akronim dari Very Important Person, jadi kursi-kursi itu adalah fasilitas bagi orang-orang yang dianggap penting. Ada dekan dan pembantu dekan III yang datang siang itu. Panitia mempersilakan orang-orang penting tersebut untuk duduk di sana. Mereka memberi sambutan dalam seremonial, duduk kembali sebentar menyaksikan lalu pergi. Kurang lebih 20 menit waktu efektif kursi tersebut digunakan.

Saya, Dia dan Amerika

Oleh : Dodi Faedlulloh

"Amin", kata yang secara tidak sadar terlontar dalam hati setelah muncul dalam timeline keinginan atau mimpi besarnya berkunjung ke Amerika. Dia meng-tweet via tumblr, jadi tidak tepat juga kalau disebut tweet. Ada semacam otomatisasi yang sudah diatur olehnya, tiap postingan dalam tumblr akan masuk juga dalam timelinenya. Ternyata benar, beberapa saat ‘tweet’ tersebut hilang dalam timeline, mungkin dia sengaja menghapusnya. Jadi ingin tahu alasanya. Mungkin malu kah ? Memang, dia kadang menjadi gadis pemalu, tapi tidak jarang menjadi gadis yang begitu lincah. Saking lincahnya, orang yang di sekitarnya bisa dibuatnya bingung.

Tidak penting juga membahas apakah itu benar tweet atau postingan via tumblr, ada yang lebih penting malam ini. Dia masih belum membalas pesan singkat yang saya kirim. Mungkin dia masih sibuk di ruang komunitasnya, yang tadi sore saya sempat antar. Tapi sayang, kasat mata, wajahnya tiba-tiba menjadi masam, sebuah anti-klimaks, padahal sebelumnya masih hangat dengan tawa dan candaan. Bahasa tubuhnya menggambarkan sebuah kekesalan, kekesalan yang sama sekali saya tidak tahu alasannya. Mungkin saya kurang peka, tapi apa daya. Tolong maafkan saya !

Alasan Menyimpan Guestbook di Navigasi Bawah Blog

Oleh : Dodi Faedlulloh

Blogwalking adalah aktivitas yang selalu dilakukan para blogger, tujuannya tiada lain untuk saling mengunjungi sesama blogger dengan harapan adanya backlink, bertambahnya daftar kunjungan, atau sekedar menjaga ‘silaturahmi’. Biasanya dalam aktivitas blogwalking, si blogger selalu meninggalkan jejak di blog/web yang dikunjunginya, biasanya dengan cara meninggalkan komentar dalam postingan blogger lain. 

Selain meninggalkan komentar di blog, para blogger juga sering meninggalakn komen atau sapaan, sekedar sapaan “kunjungi balik ya !”, “follbak ya!” dll, di guestbook (buku tamu) untuk meninggalkan jejak. Saya pun tidak lupa menggunakan tool yang biasanya disediakan oleh beberapa pihak ketiga, seperti shoutmix,cbox,oggyx dll, untuk memudahkan para kawan blogger meninggalkan jejak di blog saya. Dari awal, sejak blog saya masih beralamat www.odhievara.blogspot.com sampai sekarang berganti domain menjadi saya masih setia menggunakan www.dodifaedlulloh.com ,tool guestbook ini. Namun posisinya saja yang selalu berubah-ubah, tergantung dari template yang pernah digunakan, pernah disamping kanan, samping kiri, navigasi atas, dan sekarang navigasi bawah, sebelum footer blog.

Rekonsiliasi : Bedah Kecil Film Five Minutes of Heaven

Oleh : Dodi Faedlulloh

Februari 1975 di Irlandia Utara, masa yang sering dikenal dengan nama troubles, Alistair Little (Liam Neeson), seorang anggota UVF yang baru berusia tujuh belas tahun membunuh Jimmy Griffin yang Katolik di rumahnya di Lurgan di depan adiknya Joe Griffin (James Nesbitt) yang sedang asyik bermain bola. Saat pembunuhan, Joe hanya bisa diam dan menatap seseorang bertopeng hitam membunuh kakaknya tepat di depan matanya. Aksi diamnya inilah yang terus disalahkan oleh ibunya. Joe terus selalu disalahkan oleh ibunya karena tidak menyelamatkan saudaranya. Perasaan dendam akhirnya tertanam, bayangan-bayangan kelam menjadi saksi atas pembunuhan kakaknya terus menghantui Joe. Bahkan sampai ia berkeluarga dan memiliki dua anak perempuan. 

Setelah 33 tahun, sebuah media televisi berusaha mempertemukan Joe dengan pembunuh kakaknya, Alistair Little dalam sebuah reality show. Tapi rekonsiliasi yang diusahakan oleh media gagal, Joe tidak ingin pertemuan dengan pembunuh kakaknya itu disorot oleh kamera yang mana juga malah turut campur dalam mendikte gerakan yang harus dilakukan oleh Joe saat pengambilan gambar, apalagi ia pun sempat menyiapkan pembalasan pada moment tersebut, Joe akhirnya melarikan diri.

Pacaran Murah

Oleh : Dodi Faedlulloh

“Mau pacaran murah ? Ya di Burjo aja !”

Begitulah celetuk Jamal, pedagang burjo (bubur ketan ijo) sekaligus kawan saya yang berlokasi di Jalan Sumampir Purwokerto sepeninggalan dua sejoli yang baru saja keluar dari warungnya setelah hampir tiga jam ngobrol ngidul-curhat dengan hanya memesan dua gelas es teh manis seharga dua ribu rupiah. Saya pun tertawa mendengarnya dan ikut cair menanggapi celetukan Jamal. Dari cerita yang disampaikannya, kejadian tersebut bukan satu-dua kali, bahkan sang pelaku bukan pasangan tadi saja.

Fenomena yang menarik dan lucu, tentang gaya pacaran anak muda hari ini. Saya tidak menyalahkan, malah menyebutnya sebagai cara alternatif pacaran di tengah konstruk hegemoni budaya barat nan cendrung tenggelam dalam efouria poya-poya. Konsekuensi logis saya kira, jika ada dua orang yang ingin berkomitmen menjalin hubungan dalam tahap pacaran, pasti akan butuh biaya. Bisa laki-laki atau perempuannya, karena pasangan matre tidak bisa distreotype-kan kepada satu jenis kelamin saja , tapi yang jelas akan butuh biaya. Kencan, nonton, makan, belanja, nelepon, sms dan aktivitas lainnya tidak bisa lepas dari proses perkenalan antara dua insan manusia yang berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan.

Menulis Surat

Oleh : Dodi Faedlulloh

Dengan hadirnya segala macam teknologi yang mempermudah dalam berinteraksi dan berkomunikasi, kegiatan menulis surat hari ini sudah mulai dilupakan oleh manusia. Ada sms, blackberry, facebook, twitter dan segala tools lain yang kini lebih sering digunakan manusia untuk berkomunikasi. Saya pun sama, terjebak dalam arus teknologi yang sudah terinternalisasi dalam diri saya.

Terakhir saya menulis surat sekitar 8-9 tahun yang lalu saat saya masih SMP, kepada teman bahkan pernah digunakan untuk ‘nembak’ seorang wanita. Lucu memang kedengarannya, apalagi kalau dikondisikan dengan situasi saat ini, bila ada seorang yang ingin mengungkapkan rasa cintanya kepada seseorang yang disukai, hmm mungkin akan banyak orang yang menertawakan. Akan dianggap jadul, bahkan norak.

Saya, Kakak dan Netbook Pemberiannya

Oleh : Dodi Faedlulloh

Sekitar satu tahun yang lalu saya pernah membuat tulisan yang judulnya hampir serupa. Tulisan yang didedikasikan untuk seorang kakak yang sudah memberi saya sebuah hadiah berupa laptop. Laptop yang kemudian saya jadikan media kerja saya, baik di kampus maupun diluar kampus. Sangat terasa manfaatnya, komparasi produktifitas saya meningkat sebelum dan sesudah saya memegang laptop. Mesin ketik modern tersebut berhasil merasuki hidup dan menjadi setengah jiwa saya. Ibarat manusia si laptop tersebut pernah beberapa kali ‘jatuh sakit’ dan sialnya setelah masa satu tahun garansi berlalu penyakitnya tambah parah yang kemudian bak sebuah suratan takdir, malaikat pencabut nyawa mengambil nyawa laptop saya : rusak.

Sudah hampir tiga bulan saya ditinggalkan setengah jiwa saya. Mati gaya menjadi pembunuh waktu yang paling setia. Selama dua bulan tersebut saya menjadi nomaden user. Pinjam sana-pinjam sini untuk mengerjakan seluruh pekerjaan saya, termasuk proposal usulan penelitian yang baru di-acc oleh pembimbing dosen pertama beberapa hari kemarin.

Mati Gaya

Oleh : Dodi Faedlulloh

Sudah hampir tiga minggu ini saya tidak ditemani sang laptop kesayangan pemberian (hadiah?) dari kakak saya. Tiga minggu yang lalu, tak ada hujan pula tak ada badai laptop saya tiba-tiba rusak, mati total. Masalah ini jadi semakin memprihatinkan karena data-data saya semua tertinggal disana, termasuk data-data untuk proposal penelitan yang akan baru saya garap.

Setelah dikonsultasikan sana-sini, ternyata laptop yang diberikan kakak saya satu tahun yang lalu ini mengalami masalah yang cukup serius. “Motherboardnya kena mas !” ujar salah seorang karyawan disalah satu service laptop centre di Purwokerto menjelaskan akar permasalahan mengapa laptop saya tiba-tiba mati. “Kira-kira berapa mas kalo diganti?”, tanya saya. “Sekitar dua setengah juta mas” jawabnya. Kepala saya pun tertunduk dan terdiam seribu bahasa.

 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma