Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan

Masokis

Oleh: Dodi Faedlulloh

Kerja dalam atmosfer kapitalisme adalah alienasi. Detik per detik dan setiap keringat yang keluar adalah eksploitasi karena para pekerja dicuri nilai lebihnya. Tapi alineasi itu bisa menjadi sekedar rasa. Toh, banyak dari pekerja yang turut ikhlas dari memiliki sense of belong yang tinggi terhadap perusahaan. Jadi apapun kerjanya, seberapa lama lemburnya itu hanyalah secercah proses pencarian rezeki. Bagi para sang kritis, inilah yang disebut-sebut sebagai kesadaran palsu. Semangat yang menggebu para pekerja tak lain merupakan bentuk kesadaran yang telah termanipulasi sedemikian rupa.

Bagi orang-orang yang paham dengan hal ikhwal kesadaran palsu ini bila bertemu dengan kerja maka yang tercermin adalah penderitaan. Di balik penderitaan itu kadang ada perlawanan dari pekerja, baik terorganisir maupun sendiri-sendiri, untuk merubah. Merubah dengan menciptakan retakan-retakan kecil sambil berharap ada revolusi tiba.

Berpikir Kritis sebagai Jembatan Aksi Nyata

Oleh: Dodi Faedlulloh

Disadari atau tidak, tak jarang sebagian dari kita, sebagai manusia, melulu bertanya tentang apa yang dilihat, didengar dan dirasa. Saat ada peristiwa A, lantas bertanyalah kita mengapa terjadi peristiwa tersebut? Ketika mengalami musibah, kemudian hati kita pun terarah pada tanya bagaimana musibah tersebut bisa menimpa kita. Dan sebentuk pertanyaan-pertanyaan lainnya yang secara tiba-tiba hadir dalam nalar kita. Hal tersebut tentu lumrah, natural, dan fitrah karena pada dasarnya manusia senantiasa selalu berpikir, berpikir dan bepikir. Tapi sayangnya tak jarang pula kita memilih berhenti dalam proses penggalian pertanyaan tersebut, akhirnya jatuh pada kesimpulan yang belum tuntas, bias, tidak terarah, parsial, dan juga malah emosi pribadi menjadi bumbu dalam proses berpikir kita. 


Seorang filusuf Yunani, Socrates memberi satu nasihat penting kepada kita. Ujarnya, “Kehidupan yang tidak diperiksa, tidaklah pantas untuk kita hidupi.” Jelas nasihat ini, secara reflektif menegur manusia yang tidak menyempatkan waktu dan tenaganya untuk berkontemplasi, merenungkan diri atas apa yang terjadi atas hidupnya. Secara implisit, Socrates hendak mengajak kita untuk berusaha berpikir secara kritis, baik dalam rentang waktu lampau, konteks hari ini maupun yang sifatnya futuristik. Kita perlu melakukan perenungan secara seksama dan terus menerus untuk menuju kualitas kehidupan yang lebih baik. 

Ingin Pantas Hidup : Belajar dari Sokrates

Oleh : Dodi Faedlulloh

Malam ini aku menulis tanpa makna. Sekedar berbasi ria sebelum kedua mata ini terpejam. Entah esok pagi akan kembali terbuka atau justru tertutup selamanya itu tak masalah. Tuhan, Dia lebih tahu daripada aku yang sok tahu.

Malam ini aku menulis tanpa makna. Sekedar berbincang lewat hati, bercermin diri. Seperti apa yang telah dituturkan seorang filusuf, Sokrates namanya. “Hidup yang tidak diperiksa ulang tidak pantas hidup”. Tapi aku tidak seperti dia si Sokrates. Pakaianku tidak lusuh, justru bertumpuk sia-sia. Apalagi fisikku sama sekali tidak setegar dia. Ada satu yang sama, Aku pun merasa sebagai seorang pemberani, : pemberani dalam peperangan. Ku akui kata-kata terakhir begitu muluk, tapi ku sebut itu cita-cita.

Seorang yang bijak patutnya menyadari langkah-langkah yang dilewatinya. Lagi-lagi pandangan Sokrates sebagai pegangan. Maka detik ini aku pun mendeklarasikan diri sebagai si lalat pengganggu. Lalat penggangu yang terbang tanpa arah untuk mengusik para pemalas. Tak perlu jauh, yang akan ku ganggu kali ini aku sendiri. Lucu kan ? Beribu kali berpikir tak akan pernah sekalipun indrawi meyaksikan mahluk menyengat dirinya sendiri. Nyentrik, tak apa yang penting pantas hidup.

Goyah

Langkahku sedikit mulai goyah. Biasa, sedari dulu ketika diri masih dibawah alam awam. Sekarang pun demikian, bahkan lebih goyah dari biasanya. Seolah berjalanpun tidak tertumpu pada kaki sendiri, meronta-ronta kesakitan meminta bala bantuan, sekiranya ada sahabat-sahabat kecil yang setia membantu.

Bangun lalu berdiri. Jangankan berlari untuk sekedar berjalanpun aku tak kuasa. Kapayahan ini semakin membuatku terkutuk. Jejak langkahku tak bersisa, tertiup angin begitu saja : dilupakan.

Mana bisa ku jungkirkan dunia dengan kekuatan semacam ini. Hanya berbekal idelogi (yang dianggap) kosong yang tanpa makna. Setiap detik sang harapan pun terkikis begitu saja. Hujan gerimis pun bak menjadi banjir yang luar biasa dahsyatnya. Terbawa arus yang tak tentu muaranya. Siasat-siasat busuk pun sempat mengambil alih peran dan menyerang benak. Memilih melacurkan diri dan terjun dilorong hitam. “Kenapa tidak ?”.

Semoga sahabat-sahabat kecilku mendengar. Mendengar berita, mendengar cerita, mendengar derita. Sahabat-sahabat kecilku bukanlah orang bodoh, mereka punya mata juga telinga dan pastinya punya hati.

Teguran kecil banyak terlontar keluar dari mulut-mulut berbusa. Bodohnya diriku adalah yang dijadikan topik andalan. Perbincangan hangat tentang ulah nakal yang berkesan tolol, bodoh, idiot dan kawan sejenisnya. Sahabat-sahabat kecilku memang tidaklah bodoh, justru aku lah yang bodoh itu. Ya, itu aku.

Cukup.

Purwokerto, 30 Mei 2010 setelah bekerja kasar demi sesuap nasi dan sebatang rokok.
 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma