Tampilkan postingan dengan label Generasi Muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Generasi Muda. Tampilkan semua postingan

Confession of Shopaholic: Pembacaan Konsumerisme dalam Dunia Fiksi dan Non-Fiksi


Oleh: Dodi Faedlulloh

Re-Narasi

Belanja telah menjadi hobi kebanyakan manusia di epos modern, bahkan sudah mulai merasuk sel-sel  dan sub-atom kehidupan. Tidak melakukan aktivitas tersebut berarti “mati”. Begitu juga Rebbeca Blomwood, tokoh rekaan dalam film confession of Shopaholic, menjadi salah satu gadis dari jutaan manusia modern yang sudah terjebak dalam kehidupan budaya konsumersime. Aktivitas over belanja sudah berada pada level tertinggi dalam kehidupan kesehariannya, Rebbeca menemukan aktualisasi dirinya saat berbelanja ini-itu. Sebagai figur yang mapan, belanja tanpa brand ternama bisa menjadi masalah besar baginya, untung saja globalisasi menyediakan kartu ajaib bernama kartu kredit. Konsekuensi harga tinggi jadi tidak masalah karena bisa menghutang secara terhormat.

Film yang diangkat dari novel karya Sophie Kinsella dengan judul yang sama memperlihatkan kepada para penonton betapa anehnya perilaku manusia yang adiktif belanja. Tidak berlebihan saya kira ketika banyak scene yang menggambarkan patung-patung di etalase toko menjadi hidup untuk merayu Rebbeca agar segera membeli dan terus membeli. Sampai pada akhirnya, Rebbeca tidak bisa lagi menggunakan kartu-kartu ajaibnya, karena hutang sudah melilitnya. Si penagih, bahasa seramnya debt collector, mengincar Rebbeca ke mana-mana.

Mati Gaya

Oleh : Dodi Faedlulloh

Sudah hampir tiga minggu ini saya tidak ditemani sang laptop kesayangan pemberian (hadiah?) dari kakak saya. Tiga minggu yang lalu, tak ada hujan pula tak ada badai laptop saya tiba-tiba rusak, mati total. Masalah ini jadi semakin memprihatinkan karena data-data saya semua tertinggal disana, termasuk data-data untuk proposal penelitan yang akan baru saya garap.

Setelah dikonsultasikan sana-sini, ternyata laptop yang diberikan kakak saya satu tahun yang lalu ini mengalami masalah yang cukup serius. “Motherboardnya kena mas !” ujar salah seorang karyawan disalah satu service laptop centre di Purwokerto menjelaskan akar permasalahan mengapa laptop saya tiba-tiba mati. “Kira-kira berapa mas kalo diganti?”, tanya saya. “Sekitar dua setengah juta mas” jawabnya. Kepala saya pun tertunduk dan terdiam seribu bahasa.

Menjadikan Menulis sebagai Tradisi Mahasiswa

Oleh : Dodi Faedlulloh

Teriakan-teriakan perjuangan dari mereka seringkali terdengar dan menggema memecahkan kesunyian saat penindasan terjadi. Atas nama rakyat yang mereka kumandangkan. Mereka pun rela turun ke jalan demi mencari perhatian kepada orang-orang yang seharusnya memperhatikan nasib rakyat (pemerintah). Retorika yang sungguh agitatif menjadi penghangat suasana aksi. Ya mereka adalah sekumpulan orang yang berpredikat mahasiswa. Mereka adalah kaum intelektual muda dan calon pemimpin untuk perubahan. Memang akan sangat banyak kata yang harus dikumpulkan dan disajikan untuk mendeskripsikan kaum ini, tapi pada kesempatan ini penulis akan mencoba sedikit menyibak salah satu budaya yang masih belum begitu diminati oleh kebanyakan mahasiswa ; budaya menulis.

Seringkali kita dengar bahwasanya mahasiswa adalah orang-orang yang mempunyai nalar kritis yang luar biasa. Sejarahpun mencatat bahwa gerakan-gerakan mahasiswa mampu menjadi pelopor dalam setiap aksi membela rakyat, bahkan salah satu rezim otoritarian pernah berhasil diruntuhkan oleh gerakan mahasiswa. Di Indonesia memang mahasiswa mempunyai peran yang signifikan. Mahasiswa menjadi penyambung lidah bagi rakyat-rakyat yang termarjinalkan. Selain peran akademik, mahasiswa juga mempunyai peran moral, sosial dan juga politik yang harus senantiasa dilakukan. Dari semua itu pantaslah predikat “calon pemimpin bangsa” disematkan kepada mereka.

Gosip

Oleh : Dodi Faedlulloh

Bagaimana sikap Anda bila mendengar berita buruk orang lain ? tidak sedikit dari kita yang justru senang luar biasa bilamana bisa mendengar berita orang lain yang berbau negatif. Gosip, itu mungkin bahasa kerennya. Tidak jarang juga walaupun kebenaran berita tersebut belum pasti namun kita justru ikut-ikutan menyebarkan berita itu. Ya, memang terasa asyik, maklum yang dikorek-korek adalah borok orang lain.

Dari satu mulut bisa terakumulasi menjadi ribuan mulut yang bicara mengenai hal yang sama. Berbeda dengan teknis “menyebarkan” duit yang dilakukan oleh para pejabat korup, semakin mengalir justru semakin berkurang karena masuk kedalam saku si pejabat, sedangkan si gosip ini semakin mengalir justru bisa semakin banyak tambahannya. Jiwa eksplorasi atau so detektif dengan cara menganalisa informasi yang didapat tiba-tiba muncul, hasil “tambahannya” kemudian disebar dari mulut ke mulut, tentu dengan tambahan-tambahan lainnya dari si pendengar berita buruk yang juga doyan bersyiar gosip. Satu berita buruk yang belum tentu kebenarannya berkembang menjadi berita yang variatif.

Latah “Handpone Latah”

Oleh : Dodi Faedlulloh

Berbicara mengenai perkembangan handphone (HP) jadi teringat ketika saya masih berseragam putih abu. Saat itu saya mempunyai handphone yang ala kadarnya, sekedar bisa sms dan telepon saja tapi bila melihat beberapa kawan saya tidak sedikit pula yang punya hobi mengonta-ganti HP sesuai dengan keluaran terbaru . Sama sekali tak ada rasa iri dibenakku, justru yang tiba-tiba muncul adalah rasa penasaran saya yang sekedar ingin tahu alasan utama mereka doyan bergonta-ganti HP. Secara kasat mata saya hanya mampu melihat kalau kebiasaan tersebut tampak seperti persaingan atau lomba, siapa yang mempunyai HP paling update dia lah yang menang.

Beberapa tahun pun berlalu, kini saya sudah duduk di bangku kuliah. Pengalaman saat masih duduk di bangku SMA pada dasarnya tak berubah, ternyata para mahasiswa yang dikenal sebagai mahluk kritis juga terjebak dalam dunia “gonta-ganti HP”. Saat awal-awal saya memasuki dunia kampus, alat komunikasi yang sedang menghegemoni adalah iPhone. Banyak dari kawan mahasiswa yang berlomba-lomba menggunakan HP macam ini, satau sama lain saling latah dan berusaha tampil menggunakan HP-HP terbaru tersebut. Tahukah anda ternyata dari beberapa kawan yang selalu ingin tampil modis dengan HP barunya tidak bisa memaksimalkan fitur yang ada didalamnya, dengan kata lain walau berbeda tipe dan tentunya HP mereka berharga selangit hanya dipakai untuk sms dan telepon saja, ya kalau demikian tak jauh berbeda dengan HP milikku yang jauh lebih murah.

“Mencaci” Valentine

Oleh : Dodi Faedlulloh

Valentine ? Saya yakin akan banyak orang yang sudah kenal dan akrab dengan kata yang satu ini, dirayakan setiap tanggal 14 Februari oleh sejuta umat para pengagum kasih sayang yang mayoritasnya tentu adalah generasi muda. Saya pengagum kasih sayang dan juga masih berusia muda tapi tampaknya tak pernah sedetikpun untuk berpikir saya akan merayakannya.

Saya bukan seorang ahli agama yang akan memberikan alasan mengapa saya tak akan pernah merayakan apa yang namanya valentine dengan landasan-landasan fundamental spiritual. Pada kesempatan kali ini saya hanya ingin becorat-coret ria tentang keengganan saya merayakan valentine (lagi-lagi kata ini saya ucapkan,bosan) sesuai dengan hati nurani dan akal sehat yang membimbing jari-jariku untuk terus mengetik di tuts-tuts keyboard sampai akhirnya munculah satu risalah kecil ini. Risalah yang begitu kuat nilai subjektifitasnya namun akan diterima secara bijak oleh para manusia yang berpikir jernih.

Dari banyak versi sejarah munculnya hari valentine tak ada satupun yang menggugah pikiran saya untuk kagum dan saya pun sama sekali tak ingin untuk bercerita dan mengetahui lebih dalam tentang itu justru dari ketidak jelasan dan simpam siurnya asal muasal sejarah ini semakin membuat saya berpikir kalau valentine hanya bentuk “akal-akalan” jangka panjang manusia tempo dulu saja. Yang saya tahu dan pasti kawan-kawan yang lain juga tahu (jangan so pura-pura tidak tahu) valentine sama sekali bukan budaya kita.Titik. Sejatinya kalimat tersebut cukup untuk merepresentasikan secara keseluruhan yang ada dalam benak saya. Akan tetapi saya akan tampak menjadi orang yang bodoh kalau hanya beralasan seperti itu. Lantas alasan apa yang ada dalam benak saya ?

Saya sebenarnya cukup geram meliha para generasi muda yang begitu larut dalam euphoria perayaan valentine. Saya sangat yakin seyakin-yakinnya, ditanggal 14 Februari nanti akan banyak dari teman disitus jaring sosialku seperti facebook dan twitter yang akan meng-update status dengan ucapan selamat hari valentine layaknya pengucapan selamat tahun baru atau ucapan selamat merayakan hari besar agama seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Setidaknya hal ini sedikit menggambarkan kalau valentine memang sudah menjadi bagian hidup mereka.

Dengan berat hati kita harus mengakui kalau valentine seakan berubah menjadi budaya. Budaya yang cendrung menjurus menjadi budaya populer dan sangat konsumtif sehingga akan menjadi lahan yang luas untuk mengeruk keuntungan sebesar-sebesarnya oleh para kaum kapitalis dari (maaf) kebodohan para remaja yang selalu doyan memuja dan men-tuhankan gengsi dan style. Bagaimana tidak, perayaan ini lebih banyak ditujukan sebagai ajakan pembelian barang-barang yang berhubungan dengan valentine seperti coklat berbentuk hati,perhiasan ataupun boneka-boneka merah muda yang tampak lucu. Hal ini semakin menjadi-jadi karena didukung oleh pertokoan dan juga tentunya peranan media yang senang memunculkan jargon-jargon dan simbol valentine dan pastinya tak lupa menyelenggarkan pesta atau acara yang terkait dengan valentine dengan tujuan untuk menggeruk keuntungan yang lebih.

Bila si valentine day ini dikaitkan dengan agama sama sekali secara historis bukanlah merupakan suatu budaya dari religi tertentu. Kiranya tak hanya bagi muslim saja, bagi kristiani, budha ataupun hindu memang secara elementer tidak ada relevansi nya, dengan kata lain tidak cocok.

Pada kesempatan kali ini saya akan mengajak pembaca untuk sedikit berpikir secara jernih dan memainkan logikanya. Cukup sederhana, apabila kita memang ingin mengungkapkan rasa kasih sayang kita kenapa harus menunggu valentine tiba ? bukankah kita bisa menunjukan rasa kasih sayang kita setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap hari kepada orang-orang yang kita kasihi. Sejatinya kita tak perlu berkiblat kepada valentine yang sekali lagi ini bukanlah budaya kita dan tak cocok untuk masyarakat kita yang beragama masih bisa berpikir jernih. Dan bagi yang memilik agama kalau hanya ingin sekedar simbolisais dan “rame-ramean” kenapa tidak “merayakan” hari kasih sayang ini pas dihari besar agama saja yang tentunya lebih prinsifil ? Untuk muslim punya dua hari raya, bagi kristiani mempunyai hari natal yang bisa dijadikan momentum sebagai show time kasih sayang kita dan juga dalam agama lainnya (walaupun pada dasarnya secara pribadi saya tidak setuju kalau kita berbagi kasih sayang saat hanya hari raya saja).

Diluar sana (dan tidak menutup kemungkinan di negeri kita juga) valentine cendrung dirayakan dengan hal-hal negatif dan tentu sangat dedukstrif namun berbalut merah muda yang indah yakni berupa pesta yang bermuara dengan sex bebas dan pesta pora ala American pie. Lagi-lagi ini dilakukan dengan kedok membuktikan cinta. Sependek itukah pembuktian cinta dan kasih sayang kita ? Semoga saja tidak. Saya kira saya cukupkan cuap-cuap saya mengenai valentine ini dan saya tetap berharap semoga kawan-kawan tidak terlalu bodoh untuk ikut merayakannya dan juga tentu tak lupa untuk kawan black car community, black motor community atau black community lainnya saya harap untuk tidak ikut-ikutan merayakan sesuatu yang bukan dari budaya kita.Tapi semuanya terserah individu masing-masin g untuk memutuskan. Salam.

Sumpah Pemuda, Masih Adakah dalam Hati Pemuda Indonesia ?


Oleh : Dodi Faedlulloh

Hari ini tanggal 28 Oktober 2009. Ya seperti hari biasa lainnya hari ini aktivitas sehari-hari tak ada perbedaan. Dikampusku sedang diadakan ujian tengah semester, Saya memang sedang tidak ada ujian, tapi Saya menyengajakn diri datang ke kampus. Kulihat pemandangan para mahasiswa tampak sedang sibuk dengan handout-handout serta catatannya. Ada yang berdiri, yang duduk dan bercanda diluar kelas menanti jam ujian masuk, maklum aktivitas seperti ini sudah biasa ketika sedang ujian. Sama sekali tak ada perbedaan, ingin sekali Saya bertanya kepada semua mahasiswa yang ada dikampus. “Tahu kah hari ini hari apa ?”. Ah tidak Saya mengurungkan niat untuk bertanya, malahan yang ada Saya kan dicap sebagai orang yang aneh. Sayapun berlalu dari kampusku sambil membawa satu unek-unek dalam hati tentang keyakinan (pesimisme logis) kalau diantara mereka masih ada yang tidak tahu ada sejarah apa pada hari ini.

Semoga kita masih ingat, tepatnya 81 tahun lalu, 28 Oktober 1928. Pada hari tersebut terjadi Sumpah Pemuda, peristiwa yang lahir sebagai hasil Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928 di Jakarta tersebut adalah bukti dan manifestasi yang gemilang dari hasrat kuat kalangan para pemuda Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan agama, untuk menggalang persatuandan kesatuan bangsa dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Saya sungguh kagum dengan para pemuda pada masa itu. Mereka berasal dari berbagai daerah. Ada Jawa,Batak, Celebes, Ambon, Minahasa, Betawi, Madura dan lain-lainya. Tanpa melihat backgroung dan perbedaan yang ada, mereka tetap bisa bersatu dan berjanji dalam warna merah putih. Satu kata dariku, “Hebat !”.

Andaikata kini masih ada beberapa pemuda pada masa itu yang masih hidup melihat keadaan para pemuda Indonesia, tampaknya mereka akan bersedih dan sangat perih hatinya. Bukan merupakan suatu rahasia, bagaimana keadaan mayoritas pemuda Indonesia sekarang yang tak bisa lepas dari permasalahan dan konflik. Narkoba ? Kini barang laknat itu sudah merjalela di seluruh pelosok negeri, bahkan siswa SMP-pun sudah ada yang menjadi pemakai setia. Sex bebas ? Tak perlu tabu lagi untuk menyatakan bahwa bayank para pemuda Indonesia pernah melakukan aktivitas sex bebas sebelum menikah. Tawuran? Si kalangan akademisi (baca:mahasiswa) yang dicitrakan oleh masyarakat sebagai para generasi harapan bangsa pun malah memasukan aktivitas ini sebagai agenda penting tiap tahun. Nasionalisme pemuda? Itupun masih peru dipertanyakan. Suatu situasi yang kontras dengan apa yang terjadi 81 tahun yang lalu.

Hari Sumpah Pemuda semoga bisa menjadi momentum kebangkitan para pemuda Indonesia. Hal-hal negatif dan perilaku bodoh yang pernah diakukan kita jadikan sebagai pelajaran berharga. Dengan semangat sumpah pemuda yang pernah dilakukan oleh para pemuda terdahulu layaklah kita mencontoh mereka. Berjuang untuk satu nama Indonesia. Apalagi diera globalisasi seperti saat ini, tantangan semakin berat. Bukan sikap so-so an dari penulis, karena Saya pun tahu diri dan patut untuk terus berintropeksi. Masih banyak kesalahan dan sikap apatis dari Saya. Tapi tak ada salahnya sebagai sesama yang berjiwa muda untuk saling mengingatkan ? Mari bersama-sama kita buktikan kepada ibu pertiwi kalau para pemuda yang ada saat ini tak kalah hebat dengan para pemuda tahun 1928. Bermulai dari satu semangat yang sama kita tunjukan bahwa kita kan hidup berjuang untuk Indonesia dengan berbagai cara sesuai dengan apa yang kita bisa lakukan. Keberagaman tak kan pernah menjadi sekat untuk mencintai Indonesia. Tak terlalu banyak kata-kata, mulai hari ini layaknya para pemuda era tahun 1928, perjuangan yang kan kita lakukan bersama mari dimulai dengan janji seperti yang para pendahulu kita teriakan :

“Kami putra putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia
Kami putra putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
Kami putra putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia”


Hidup Pemuda Indonesia !

Menghapus Sikap Nasionalisme Musiman

Oleh : Dodi Faedlulloh

Siapa sih yang tidak tahu Indonesia ? Bangsa besar yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya dan mempunyai keanekaragaman budaya yang menjadi ciri khas Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke memilik corak masing-masing yang menjadi identitas dan kekuatan budaya Indonesia. Setiap kebudayaan yang dimiliki setiap daerah mempunyai kekuatan masing-masing dan menjadi daya tarik daerah tersebut. Jenis tari-tarian, nyanyian, ataupun juga bahasa disetiap daerah mempunyai karakter tertentu yang bisa dijadikan andalan daerah tersebut. Memang sungguh kaya Indonesia kita tercinta!

Negara Indonesia disatukan atas dasar perbedaan dan keanekaragaman budaya, bahasa, suku, dan agama. Tapi justru dari sana yang semakin membedakan Indonesia dengan negara lain pada umumnya. Indonesia dikenal dengan rakyatnya yang ramah tamah terhadap para pendatang. Murah senyum dan sangat enak untuk diajak bicara itulah juga rakyat Indonesia.

Jangan Pernah Mau Jadi Generasi Penerus Bangsa

Oleh : Dodi Faedlulloh

Jangan terkejut atau heran dulu lihat judul diatas, silakan disimak lebih dalam lagi, definisi secara kata juga sudah memiliki pengertian yang agak ganjil (menurut saya). Generasi penerus bangsa. Mari kita garis bawahi kata “penerus”. Diambil dari kata “terus” yang diberi imbuhan pe-, karena kata tersebut (terus) diawali hurup “t”, maka menjadi berubah bunyi menjadi penerus. Kata ini dapat diartikan sebagai orang yang melakukan kegiatan/pekerjaan meneruskan. Meneruskan berarti melanjutkan apa yang telah ada dan tidak melakukan perubahan. Terus disambung dengan kata bangsa menjadi penerus bangsa. Jadi dapat disimpulkan secara ringan sebagai orang yang akan hanya melanjutkan apa-apa yang telah ada untuk bangsa.

Mengapa kita tidak diperbolehkan menjadi generasi penerus bangsa ? bukankah itu merupakan hal baik ? guru-guru kita juga kan ketika masih SD sering mengajarkan untuk rajin belajar karena kita adalah generasi penerus bangsa ini. Tidak jarang juga kita menemukan tulisan-tulisan yang kurang lebih menjelaskan bahwa masa depan bangsa itu ada ditangan para pemuda yang mempunyai peran sebagai generasi penerus bangsa. Saya pribadi juga tak tahu siapa dan latar belakang apa yang memulai mengajarkan hal ini. Dan seperti yang pernah saya alami kurang lebih 13-14 tahu yang lalu ketika masih SD guru saya sering mengatakan hal tersebut, dan tentu dengan polosnya saya mengangguk-anggukan kepala dan memahami maksud guru saya itu. 13-14 tahun yang lalu yaitu ketika pemerintahan orde baru berkuasa, yang tiada lain segala sektor (ekonomi,politik,pertahanan,keamanan dll) dikuasai sepenuhnya secara sentralisitis oleh Presiden Suharto. Dimana rakyat sangat tekekang dan tidak memiliki kebebasan untuk bicara sampai-sampai masyarakat tidak tahu menahu bahwa ternyata pimpinan kita itu sedang asyik melakukan korupsi besar-besaran. Itu dulu, memang waktu itu saya tidak terlalu mengerti bahkan bisa dibilang tidak tahu menahu tentang ekonomi atau perpolitikan, tapi setidaknya kalimat yang sering disampaikan oleh guru saya itu, generasi penerus bangsa, sudah melekat di otak (dan mungkin dihati) saya.

Kemudian setelah era reformasi muncul di pertengahan 1998 dengan diawali lengsernya Suharto sebagai pimpinan nasional kita. Presiden pun silih berganti tapi tanpa ada perubahan yang jelas. Bukan saya dan generasi saya saja yang disuapi ajaran “kita adalah generasi penerus bangsa”, ternyata setelah beberapa tahun kemudian, ketika adik saya masuk SD pun yang dimana saat itu Indonesia sedang dipimpin oleh Presiden Megawati, ternyata masih saja ajaran itu diberikan oleh guru-gurunya. Tidak jarang secara tidak sengaja saya membaca buku bacaan adik saya, tidak sedikit saya kembali menemukan kalimat tersebut. Atau saya juga melihat hasil ujian adik saya dan kembali menemukan kalimat kurang lebih ada yang berbunyi “kita adalah generasi penerus bangsa” sebagai jawaban adik saya. Sama seperti jawaban saya dulu. Dan lagi-lagi gurunya memberikan tanda ceklis sebagi tanda bahwa jawaban adik saya itu benar. Tapi mungkin saat adik saya menjawab pertanyaan ujian tersebut belum begitu mengetahui ternyata pemerintah yang sedang menjabat sedang asyik-asyiknya menjual asset bangsa.

Bagaimana dengan sekarang ? ternyata masih tetap ajaran itu selalu disampaikan. Tak hanya ketika SD, SMP, atau SMA, sampai sekarang saya sudah duduk di bangku kuliah pun tak jarang dosen-dosen saya mengatakan hal tersebut. “kalian adalah generasi penerus bangsa !” itulah kalimat yang sering saya dengar dari dosen saya. Cukup bosan juga saya mendengarnya.

Walaupun seperti hal kecil, ajaran bahwa kita adalah generasi penerus bangsa haruslah segera diralat. Kenapa ? lihat kondisi kita sekarang ? Negara kita punya sumber daya alam yang melimpah tapi ternyata yang menikmati para pihak asing. Pendidikan yang dimana adalah tanggung jawab pemerintah malah menjadi ajang komersialisasi dan kapitalisasi, pendidikan malah dijadikan ajang meraup untung. Para pejabat yang doyan korupsi karena ternyata mereka bisa kebal hukum. Atau pemerintah yang pecah dan saling mengklaim apa yang telah diberikan mereka kepada Negara sebagai cara untuk meraih simpati rakyat ketika menjelang pemilu. Dan masih banyak hal-hal negatif yang muncul dari ibu pertiwi kita ini. Apakah hal seperti ini yang akan kita teruskan ? apa perbuatan-perbuatan macam ini yang kita akan lanjutkan ? dari lubuk hati yang paling dalam saya yakin pasti kita akan menjawab, “BUKAN” !! Bangsa kita sama sekali tidak membutuhkan para generasi penerus bangsa. Justru yang paling dibutuhkan Negara kita saat ini dan seterusnya adalah GENERASI BARU BANGSA. Generasi yang dimana harus bersih dari pemikiran-pemikiran kotor seperti sekarang. Generasi yang tidak ingin melakukan perbuatan laknat seperti apa yang dicontohkan oleh para pendahulunya. Saya berkata seperti ini bukan berarti pada saat ini di bumi pertiwi semua jahat dan tidak ada yang baik, bila ada yang baik dan dapat kita lakukan kenapa tidak untuk melanjutkannya atau bahkan harus bisa menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Dalam catatan kecil ini saya hanya menekankan dan menunjukan apa yang saya (dan mungkin teman-teman juga) lihat di depan mata. Headline koran kadang tak henti-hentinya memberitakan tentang perilaku tindakan korupsi yang dilakukan oleh para oknum pejabat dan ironisnya masih dalam halaman koran yang sama memberitakan tentang kemiskinan rakyat kita, tentang kelaparan yang terjadi dibanyak daerah, tentang seorang ibu yang membunuh anak-anaknya lalu bunuh diri karena himpian ekonomi, atau seorang siswa yang berani mencuri karena untuk membiayai sekolahnya dan masih banyak yang lainnya pemberitaan tentang penderitaan yang menyerang semakin hari semakin terasa begitu menyiksa rakyat kecil.

Generasi baru, memang itu yang diperlukan untuk sekarang dan masa depan bangsa. Generasi yang selalu penuh inovasi dan motivasi dalam pembenahan negara. Yang memiliki hati nurani dan tak hanya sekedar bisa diam jika melihat saudara-saudaranya terkena musibah. Yang selalu mampu berpikir kritis terhadap keganjilan sosial, dan berani berkata salah jika sesuatu itu memang benar-benar salah, Indonesia tidak butuh generasi pemuda yang cuma bisa hura-hura dan senang menghamburkan duit orang tuanya, pemuda yang cuma bisa bangga karena orang tuanya yang kaya. Negara kita juga sama sekali tidak membutukan para pemuda yang hanya NATO (No Actions Talk Only). Yang dibutuhkan saat ini adalah implementasi dan gerakan yang sunguh-sungguh dari kalangan kita para pemuda sebagai generasi baru bangsa yang tak konservatif. Dibutuhkan pemikiran-pemikiran fresh dan kreatifitas tinggi karena bagaimanapun masa depan bangsa benar-benar ada ditangan kita. Perubahan dan pembaharuan mari kita sama-sama lakukan, dimulai dari diri kita sendiri, kemudian tingkatkan rasa kepedulian sosial dan jauhkan jiwa kita dari sifat individualistis. Jangan mau sekedar jadi penonton, mari kita beramai-ramai jadi pemain dalam perubahan menuju hal yang lebih baik untuk bangsa kita Indonesia.

Sekali lagi saya secara pribadi mengajak teman-teman untuk menolak menjadi generasi penerus bangsa. Jangan mau mencontoh perilaku-perilaku buruk yang dilakukan oleh para pendahulu kita. Jangan pernah mau diwarisi sistem-sitem dan contoh bobrok yang pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya, yang telah berlalu jadikan semuanya sebagai pembelajaran yang berarti bagi kita semua dalam mengambil keputusan di setiap tindakan yang akan kita ambil. Jadilah generasi baru, generasi yang terus menerus aktif berbuat kebaikan untuk pribadi dan bangsa. Mari kita berbuat kebaikan dimulai setelah teman-teman baca catatan kecil ini.


Salam

Hidup generasi baru !!!!

Memasang Sang Bendera Merah Putih

Oleh : Dodi Faedlulloh

Kurang lebih sudah dua minggu yang lalu kita merayakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Seperti biasa pada hari-hari tersebut akan diramaikan dengan banyaknya bendera merah putih yang dipasang disetiap rumah, begitu juga dengan rumah kontrakanku . Saya pun berinisiatif untuk ikut meramaikannya juga. Tepat dua hari sebelum tanggal 17 Agustus Saya membeli bendera merah putih di sekitar Alun-alun Purwokerto seharga delapan ribu rupiah. Itu harga asli yang diberikan oleh si pedagang, melihat bendera dagangannya masih banyak Saya pun tak menawar lagi, ”tidak begitu mahal untuk sebuah bendera merah putih” gumanku dalam hati.

Bendera itu kini sudah ada ditangan Saya. Sesampainya di kontrakan lalu saya pun mencari sebatang bambu yang bisa dijadikan sebagai tiang untuk bendera yang baru kubeli. Setelah berhasil mendapat bambu tersebut Saya langsung memasang bendera tersebut di lantai dua kontarkanku (kebetulan kontarakan saya berlantai dua). Saya memilih memasang bendera dilantai dua agar tampak lebih tinggi dan setiap terhembus oleh tiupan angin akan berkibar lebih kencang. Tampak lebih gagah.

Bulanpun kini sudah berganti. Bendera-bendera yang dipasang disetiap rumah pun kini sudah disimpan dengan rapih oleh si pemilik rumah yang mungkin akan dikibarkan kembali dalam jangka waktu setahun yang akan datang. Tapi tidak untuk bendera yang berada dirumah kontrakanku, Saya masih setia untuk tetap memilih mengibarkan sang bendera merah putih walaupun sekarang sudah bukan Bulan Agustus lagi. Sang bendera yang berharga delapan ribu rupiah tersebut masih berdiri tegar dan tetap menghiasi kontrakanku.

Ulahku ini terinspirasi oleh para penggagas dan penggerak #indonesiaunite untuk tetap mengobarkan semangat #indonesiaunite secara offline. Jalan ini yang Saya pilih, setelah berkoar-koar secara online kini saatnya cukup dengan langkah kecil akan tetapi dapat menunjukan rasa nasionalisme kita. Salah satu jalan tersebut yaitu dengan memasang bendera merah putih di depan rumah walaupun bukan Bulan Agustus.

Saya akui yang saya lakukan ini bukanlah sesuatu yang begitu berarti, gerakanku masihlah bersifat nasionalisme simbolik bukan nasionalisme yang sesungguhnya. Tapi dari langkah kecilku ini akan menjadi penyemangat untuk berbuat lebih bagi bangsa Indonesia. Disini Saya sekedar mengajak teman-teman untuk kembali mengambil bendera yang mungkin telah disimpan rapi dilemari kemudian marilah kita pasang dan kibarkan kembali bendera merah putih kita tercinta. Akan tampak sangat elok dan indahnya bilamana seluruh rumah yang ada di Indonesia terpasang bendera bangsanya.

Kiranya waktu yang cukup tepat untuk menujukan rasa cinta tanah air, setelah negara kita diusik oleh sedikit ulah nakal negara tetangga dan berita-berita miring tentang penjualan pulau-pulau yang ada di Indonesia. Marilah dari sekarang setidaknya kita menujukan rasa cinta tersebut, layaknya menujukan rasa cinta kepada kekasih atau kepada siapa saja yang kita cintai kita lakukan hal yang sama pula untuk bangsa kita.

Salam …

Menangisi Kemerdekaan


Oleh : Dodi Faedlulloh

Beberapa hari lagi, bangsa kita akan menanti detik-detik perayaan proklamasi. Euforia kegembiraan memperingati hari bersejarah diwujudkan dengan berbagai macam kegiatan yang secara serentak akan diadakan di seluruh pelosok negeri. Hal ini sudah tentu patut untuk kita syukuri, tapi secuil pertanyaan yang bersifat substansial agak menyangkut dalam setiap dada kita, dan ini harus segera ditemukan jawabannya. ”Benarkah negara kita sudah merdeka?”

Kemerdekaan secara harfiah dapat didefinisikan sebagai suatu kebebasan atau lepas dari ikatan dan kungkungan. Dalam Bahasa Inggris, kemerdekaan sering disebut-sebut dengan kata liberty, freedom, independence atau right. Kata-kata tersebut seringkali dipakai untuk mengacu kepada kemampuan orang untuk berbuat tanpa pembatasan-pembatasan .

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata merdeka berkaitan dengan penjajahan, berarti lepas dari berbagai bentuk penjajahan dan penghambaan manusia terhadap manusia lainnya, baik penjajahan secara fisik maupun penjajahan dalam bentuk ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Sementara itu dalam Wikipedia Indonesia, merdeka diartikan dengan pencapaian hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya atau saat di mana seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi.

Melihat beberapa definisi dimuka, secara fisik mungkin (sekali lagi baru mungkin) kita sudah tidak lagi terjajah, akan tetapi apakah itu benar ? Bilamana melihat realitas sekarang kebebasan rakyat (khusunya rakyat kecil) masih suka diperkosa oleh para tuan-tuan para pemilik modal besar. Korupsi masih menjadi masalah besar yang mengerogoti uang rakyat. Kebodohan dan kemisikinan masih menjadi teman setia rakyat Indonesia. Sang payung hukumpun kini hanyalah memihak para orang-orang berduit. Dari secuil permasalahan tersebut dengan berat hati kita harus menyatakan kalau bangsa kita belumlah merdeka sepenuhnya.

Tak usah jauh-jauh, lihatlah disekeliling kita, masih banyak anak kecil yang tak bisa bersekolah dan lebih memilih untuk mengamen dijalanan karena yang ada dalam benak mereka pendidikan hanyalah untuk orang yang punya saja. Sungguh miris memang, karena hal itu terjadi setelah negara kita “merdeka” selama 64 tahun. Lagi-lagi yang menjadi permasalahan yang mendasar adalah kemisikinan. Siapakah yang harus bertanggung jawab ?

Bila direlevansikan dengan situasi di Indonesia saat ini yang masih hangat-hangatnya. Pada kesempatan kali ini, hari kemeredekaan tampaknya akan diisi oleh rasa waspada yang sangat karena di tanah air tercinta kita masih berkeliaran para teroris yang tidak akan pernah mengenal tempat dan waktu, kapanpun mereka bisa saja melakukan aksi terornya. Dari aksi ini cukup membuktikan kalau bangsa kita ternyata masih terjajah secara fisik. Pastinya sudah menjadi harapan kita sebagai warga negara menginginkan kehidupan yang damai. Rasa nyaman dan aman tinggal di negeri sendiri sudah tidak bias dielakan lagi harus menjadi hak kita.

Sungguh rasanya tak adil memang bila terus menerus “menyalahkan” pihak pemerintah, saat ini saatnya kita untuk bercermin dan intropeksi diri. Lihat saja pola hidup dan pola pikir kita para remaja sekarang, semuanya cenderung mengarah kepada pola hidup dan pola pikir dunia barat. Westernisasi sudah jadi wajah baru bangsa ini, nilai-nilai ketimuran sudah semakin terkikis habis oleh modernisasi yang tak bermoral. Bahkan bias dibilang kita lebih barat daripada orang baratnya. Jadi sedikit teringat apa yang ditulis oleh sosiolog muslim terkenal, Ibnu Khaldun. Beliau menyatakan bahwa "Yang kalah cenderung mengekor kepada yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah." Dalam era globalisasi saat ini secara hakiki remaja kita ternyata belumlah bisa disebut merdeka karena masih terjajah oleh gaya hidup Barat. Menjadi PR besar untuk remaja !!

Jalan menuju kemerdekaan ternyata masihlah sangat jauh, masih banyak “penjajahan-penjajahan” yang menyerang kita dalam bentuk baru. Saat ini bukan saatnya untuk menyalahkan dan mencari kambing hitam. Sudah saatnya tugas mencari makna kemerdekaan itu adalah kita sendiri, kitalah para aktor untuk memaknai dan mengisi kemerdekaan tersebut. Mari kita berjuang bersama-sama untuk mencapai Indonesia yang labih baik, adil, makmur, dan bermartabat. Tentu akan menjadi suatu kebanggan tersendiri bila bangsa kita tercinta sudah bisa merdeka dan tak lagi terjajah oleh apapun. Berpuluh-puluh tahun seremoni demi seremoni digelar untuk memperingati hari kemerdekaan Kita berharap semoga kemerdekaan kali ini bukanlah sekedar seremoni belaka yang tak sarat makna. Semoga perayaan kemerdaan Indonesia yang ke-64 ini menjadi langkal awal kita untuk meraih cita-cita bangsa yang sudah lama terpendam. Jangan sampai terjadi lagi dalam setiap perayaan hari kemerdekaan yang muncul adalah kata-kata “menagisi kemerdekaan”. Amin. Merdeka !!!

Essensi Cinta ?

Oleh : Dodi Faedlulloh

Perlu diakui memang suatu hal yang cukup sulit untuk menginpretasikan makna cinta secara valid. Setiap orang mendefinisakan kata cinta tersebut berbeda-beda sesuai dengan paradigmanya masing-masing. Itu hal wajar, karena setiap kepala memiliki buah pikiran yang berbeda pula. Hal ini semakin dipersulit lagi karena pada dasarnya bentuk cinta itu sendiri abstrak dan bahkan secara kasat mata tidak dapat dilihat dengan jelas. Kata ini kadang begitu dipuja tapi sering juga malah dihina dan diinjak-injak. Tak Jelas substansi cinta seperti apa.

Cinta ? Sebenarnya mahluk seperti apa cinta itu ? Layaknya organisme, mahluk yang bernama cinta ini berkembang, tumbuh dan menyesuaikan diri secara adaftif dengan perubahan zaman yang semakin hari semakin berubah. Nilai dan asumsi cinta juga kian hari kian terbentuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada disekitarnya Kalau lingkuangan itu positif tentu cinta itu akan bernuansakan hal-hal yang berbau positif, begitu juga sebaliknya bila cinta itu berada di lingkungan negative yang timbul adalah citra-citra buruk akibat cinta.

Sifat cinta itu sendiri tidak begitu jelas, terkadang konstruktif, dan bisa menjadi suatu motivator dan penyemangat hidup, akan tapi tidak sedikit juga justru bisa berakibat destruktif bagi para pemujanya. Kini sudah bukan berita yang aneh bila ada remaja melakukan bunuh diri karena sakit hati oleh cinta. Itulah si mahluk cinta, kadang lembut kadang juga menjadi ganas beringas dan bahkan bisa memakan korban (jiwa).

Untuk saat ini tampaknya karena cinta demonstrasi hati sering tidak bisa dihindarkan, desentralisasi dan distribusi “kasih sayang” sudah menjadi hal yang lumrah., konspirasi dan kolusi cinta biasa terjadi. Tapi dari hati saya secara pribadi sama sekali tidak berani melafalkankan hal-hal yang disebutkan tadi sebagai cinta. Sekali lagi itu sama sekali bukan cinta !

Cinta itu sejati bukan janji. Tak perlu berkoar-koar dalam mengungkapkan rasa cinta. Sikapi semuanya dengan wajar dan apa adanya. Selain perasaan, sebenanya kita masih punya logika (dalam artian akal sehat) yang dapat menuntun kita saat tersesat dan terdampar di pulau cinta. Cinta itu terang tidak buta dan tidak gelap.

Ditinjau secara empiris makna dan asumsi cinta kini tampaknya sudah mulai “berubah”. Saya memakai tanda petik untuk kata berubah. Perubahan (change) itu perlu, tapi dalam konteks ini perubahan terjadi bukanlah menuju suatu perbaikan melainkan sebaliknya “Cinta yaitu bercinta. Cinta tanpa bercinta bukanlah cinta.” Mungkin kalimat itu yang berada menghujam deras dibenak para remaja untuk saat ini.Ironis .

Hampir lebih dari sepuluh tahun zaman reformasi berjalan, dan si mahluk yang bernama cinta itupun mengalami reformasi (perubahan) juga. Tapi sayang kata reformasi disini bermakna kebalikannya. Perubahan justru terjadi dipoint-point yang dulu dianggap sebagai kebaikan. Point-point kebaikan tersebut kini tergeser oleh arus westernisasi yang semakin merajalela di tanah air tercinta. Justifikasi yang sering diucapkan adalah sebab dari globalisasi dan mengikuti trend yang ada. Sesempit itukah pikiran kita ?

Selain buta, kini cinta sudah tidak bisa lagi berbicara dan mendengar bahkan merasakan (tidak bisa melihat,berbicara,mendengar dan merasakan hal yang baik). Cinta kontemporer adalah bergriliya, meraba dan bercinta, tanpa hal-hal yang disebutkan tadi, mungkin para remaja sekarang akan bertolak pinggang dan bersuara dengan keras “Maaf cinta tanpa bercinta bukan cinta !”.

Risalah kecil ini memang belumlah sanggup memaparkan semuanya, karena sesunggunya masih banyak undercover yang tak terlihat bak fenomena gunung es yang hanya terlihat adalah permukaannya saja tapi bila melihat kedalam justru semakin banyak dan rumit.
 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma