Tampilkan postingan dengan label Budaya Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Menulis. Tampilkan semua postingan

Menulis Surat

Oleh : Dodi Faedlulloh

Dengan hadirnya segala macam teknologi yang mempermudah dalam berinteraksi dan berkomunikasi, kegiatan menulis surat hari ini sudah mulai dilupakan oleh manusia. Ada sms, blackberry, facebook, twitter dan segala tools lain yang kini lebih sering digunakan manusia untuk berkomunikasi. Saya pun sama, terjebak dalam arus teknologi yang sudah terinternalisasi dalam diri saya.

Terakhir saya menulis surat sekitar 8-9 tahun yang lalu saat saya masih SMP, kepada teman bahkan pernah digunakan untuk ‘nembak’ seorang wanita. Lucu memang kedengarannya, apalagi kalau dikondisikan dengan situasi saat ini, bila ada seorang yang ingin mengungkapkan rasa cintanya kepada seseorang yang disukai, hmm mungkin akan banyak orang yang menertawakan. Akan dianggap jadul, bahkan norak.

Mahasiswa dan Buku: Merajut kembali Tali Kasih

Oleh : Dodi Faedlulloh

Ada hantu berkeliaran di kampus, hantu keengganan mahasiswa untuk membaca buku

Sebagai kaum intelektual, mahasiwa dibebankan untuk menjadi mahluk yang ’serba tahu’. Keserba-tahuan ini mahasiswa akan dapatkan di kampusnya baik itu di dalam ataupun diluar kelas. Dikelas, mahasiswa belajar tidak menghabiskankan waktu yang lama. Sekitar dua-tiga jam sehari, dan itu pun dengan sistem pendidikan yang bertahun-tahun secara substansi tidak pernah berubah, cendrung membuat proses belajar (mengajar?) monoton. Satu arah, handout oriented, kaku, dan mahasiswa selalu menjadi korban kekerasan simbolik yang dimiliki oleh sang pengajar (dosen).

Bila kondisi dalam kelas cendrung demikian, lantas apa yang akan diperoleh mahasiswa ? Sebatas bahan ajaran dikelaskah ? Lalu pertanyaannya : akankah cukup ? Tentunya tidak. Dunia kampus memang tak seperti halnya sekolah, mahasiswa sejatinya harus bisa menjadi pusat dalam proses belajar. Mahasiswa harus mampu berinovasi dan selalu mencari tahu tentang apa yang berhubungan dengan dunia intelektualitasnya. Proses pencarian tahu inilah yang membuat tidak cukup bila belajar hanya ada didalam kelas.

Disetiap kampus selalu berdiri perpustakaan-perpustakaan yang menghadirkan literasi multi-presfektif dan multi-science. Diperpustakaan pastinya selalu hadir ratusan bahkan ribuan buku yang sudah bersusah payah melakukan rayuan-rayuan kepada mahasiswa untuk segera menjamah dan bercinta dengannya. Namun sayang, tidak semua mahasiswa mau menjamah buku untuk penyegaran rohani intelektualnya. Adapun hal yang sangat memaksa mahasiswa untuk membaca buku tiada lain bila ada tugas-tugas yang dibuat oleh dosennya. Untuk kasus ujian, mahasiswa cukup membaca bahan ajar satu malam sebelum waktu ujian. Tragis !.

Menjadikan Menulis sebagai Tradisi Mahasiswa

Oleh : Dodi Faedlulloh

Teriakan-teriakan perjuangan dari mereka seringkali terdengar dan menggema memecahkan kesunyian saat penindasan terjadi. Atas nama rakyat yang mereka kumandangkan. Mereka pun rela turun ke jalan demi mencari perhatian kepada orang-orang yang seharusnya memperhatikan nasib rakyat (pemerintah). Retorika yang sungguh agitatif menjadi penghangat suasana aksi. Ya mereka adalah sekumpulan orang yang berpredikat mahasiswa. Mereka adalah kaum intelektual muda dan calon pemimpin untuk perubahan. Memang akan sangat banyak kata yang harus dikumpulkan dan disajikan untuk mendeskripsikan kaum ini, tapi pada kesempatan ini penulis akan mencoba sedikit menyibak salah satu budaya yang masih belum begitu diminati oleh kebanyakan mahasiswa ; budaya menulis.

Seringkali kita dengar bahwasanya mahasiswa adalah orang-orang yang mempunyai nalar kritis yang luar biasa. Sejarahpun mencatat bahwa gerakan-gerakan mahasiswa mampu menjadi pelopor dalam setiap aksi membela rakyat, bahkan salah satu rezim otoritarian pernah berhasil diruntuhkan oleh gerakan mahasiswa. Di Indonesia memang mahasiswa mempunyai peran yang signifikan. Mahasiswa menjadi penyambung lidah bagi rakyat-rakyat yang termarjinalkan. Selain peran akademik, mahasiswa juga mempunyai peran moral, sosial dan juga politik yang harus senantiasa dilakukan. Dari semua itu pantaslah predikat “calon pemimpin bangsa” disematkan kepada mereka.

 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma