Oleh : Dodi Faedlulloh
Ada hantu berkeliaran di kampus, hantu keengganan mahasiswa untuk membaca buku
Sebagai kaum intelektual, mahasiwa dibebankan untuk menjadi mahluk yang ’serba tahu’. Keserba-tahuan ini mahasiswa akan dapatkan di kampusnya baik itu di dalam ataupun diluar kelas. Dikelas, mahasiswa belajar tidak menghabiskankan waktu yang lama. Sekitar dua-tiga jam sehari, dan itu pun dengan sistem pendidikan yang bertahun-tahun secara substansi tidak pernah berubah, cendrung membuat proses belajar (mengajar?) monoton. Satu arah, handout oriented, kaku, dan mahasiswa selalu menjadi korban kekerasan simbolik yang dimiliki oleh sang pengajar (dosen).
Bila kondisi dalam kelas cendrung demikian, lantas apa yang akan diperoleh mahasiswa ? Sebatas bahan ajaran dikelaskah ? Lalu pertanyaannya : akankah cukup ? Tentunya tidak. Dunia kampus memang tak seperti halnya sekolah, mahasiswa sejatinya harus bisa menjadi pusat dalam proses belajar. Mahasiswa harus mampu berinovasi dan selalu mencari tahu tentang apa yang berhubungan dengan dunia intelektualitasnya. Proses pencarian tahu inilah yang membuat tidak cukup bila belajar hanya ada didalam kelas.
Disetiap kampus selalu berdiri perpustakaan-perpustakaan yang menghadirkan literasi multi-presfektif dan multi-science. Diperpustakaan pastinya selalu hadir ratusan bahkan ribuan buku yang sudah bersusah payah melakukan rayuan-rayuan kepada mahasiswa untuk segera menjamah dan bercinta dengannya. Namun sayang, tidak semua mahasiswa mau menjamah buku untuk penyegaran rohani intelektualnya. Adapun hal yang sangat memaksa mahasiswa untuk membaca buku tiada lain bila ada tugas-tugas yang dibuat oleh dosennya. Untuk kasus ujian, mahasiswa cukup membaca bahan ajar satu malam sebelum waktu ujian. Tragis !.