Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan

Dari Purwokerto untuk Indonesia

Oleh : Dodi Faedlulloh

Purwokerto, kota kecil yang sangat nyaman. Walaupun semakin hari semakin bertambah padat karena terus menerus bertambahnya kedatangan para mahasiswa yang melanjutkan pendidikan di beberapa perguruan tinggi yang ada di kota ini namun tetap kota yang terkenal karena keberadaan tempat wisata Baturaden ini sungguh asyik untuk didiami. Jauh dari hingar bingar dan kemacetan seperti yang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia. Setidaknya ini dirasakan oleh saya selaku mahasiswa rantau yang sudah tinggal kurang lebih tiga tahun disini. Adalah satu desa di kecamatan Purwokerto Utara bernama Grendeng yang semakin membuat saya takjub. Melihat kondisi modal sosial (social capital) disana sungguh luar biasa. Kata-kata indah yang sering saya dengar dari guru-guru waktu masih SD, semacam semangat gotong royong, tepo saliro, tenggang rasa dan sopan santun tersaji dengan jelas. Pemandangan indah itu saya lihat di tempat yang sebenarnya beberapa orang akan merasa jijik dan enggan untuk menatapnya, ya maklum lokasi pemandangan yang saya anggap indah itu adalah lokasi kecil yang dijadikan koperasi pemulung, sekali lagi koperasi pemulung.

Koperasi pemulung ? Mungkin dari pembaca ada yang baru saja mendengarnya. Tak mengapa karena memang kata koperasi biasanya sangat diidentikan dengan badan usaha yang dilakukan secara bersama-sama yang bergerak di bidang ekonomi saja. Kalau tidak disisipi dengan kata konsumen, serba usaha ya simpan pinjam. Disadari atau tidak citra kata koperasi yang ada dalam benak masyarakat kebanyakan memanglah seperti itu. Tidak sepenuhnya salah namun sedikit kekeliruan itu bila terus dipelihara maka gagasan koperasi yang dilontarkan oleh bapak pendiri bangsa kita Moh. Hatta akan semakin “tidak laku” karena terasa kurang renyah dipelajari apalagi untuk diminati.

Kembali ke Bhineka Tunggal Ika

Oleh : Dodi Faedlulloh

Saat saya masih SD, seringkali guru-guru saya menjelaskan bahwasanya semboyan negeri ini adalah bhineka tunggal ika. “Kita harus bangga nak, walaupun kita berasal dari banyak perbedaan namun kita bisa bersatu, kita mempunyai tujuan yang sama untuk negeri ini Indonesia !”, kurang lebih kalimat tersebut yang sering terlontar dari mulut guru-guru saya. Karena kata-kata itu diucapkan berulang kali sampai akhirnya masuk dibawah alam sadar saya tentang kebhinekaan negeri ini. Sembari disuguhi gambar-gambar tentang kekayaan kebudayaan Indonesia yang penuh warna seperti rumah adat, pakaian dan senjata tradisional khas masing-masing daerah saya pun mengangguk-anggukan kepala tanda kemengertian saya. 

Saya yang saat itu sekitar berumur tujuh tahunan sudah mulai merasakan kebanggan yang luar biasa atas negeri ini. “Mah, Indonesia hebat ya, walau negeri ini luas dari Sabang sampai Merauke, orangnya tuh macem-macem tapi tetap bisa hidup damai ?”, itulah statement nasionalis perdana yang saya ucapkan kepada ibu tercinta, lalu ibu saya pun member tanggapan pernyataan saya itu dengan sebuah senyuman manis, sebagai simbolisasi kebahagiaan beliau karena memiliki anak yang sudah mampu berbicara demikian. Mungkin saat itu saya masih lucu-lucunya, jadi ketika saya dengan semangatnya meminta diajak untuk pergi jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia yang pernah saya dengar dikelas seperti Sabang, Merauke, Balikpapan, dan Makassar, Ibu saya pun langgsung memberiakan jawaban dengan kalimat : “iya, nanti mamah ajak kesana”.

Menghapus Sikap Nasionalisme Musiman

Oleh : Dodi Faedlulloh

Siapa sih yang tidak tahu Indonesia ? Bangsa besar yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya dan mempunyai keanekaragaman budaya yang menjadi ciri khas Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke memilik corak masing-masing yang menjadi identitas dan kekuatan budaya Indonesia. Setiap kebudayaan yang dimiliki setiap daerah mempunyai kekuatan masing-masing dan menjadi daya tarik daerah tersebut. Jenis tari-tarian, nyanyian, ataupun juga bahasa disetiap daerah mempunyai karakter tertentu yang bisa dijadikan andalan daerah tersebut. Memang sungguh kaya Indonesia kita tercinta!

Negara Indonesia disatukan atas dasar perbedaan dan keanekaragaman budaya, bahasa, suku, dan agama. Tapi justru dari sana yang semakin membedakan Indonesia dengan negara lain pada umumnya. Indonesia dikenal dengan rakyatnya yang ramah tamah terhadap para pendatang. Murah senyum dan sangat enak untuk diajak bicara itulah juga rakyat Indonesia.
 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma