Tampilkan postingan dengan label Konsumerisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konsumerisme. Tampilkan semua postingan

Confession of Shopaholic: Pembacaan Konsumerisme dalam Dunia Fiksi dan Non-Fiksi


Oleh: Dodi Faedlulloh

Re-Narasi

Belanja telah menjadi hobi kebanyakan manusia di epos modern, bahkan sudah mulai merasuk sel-sel  dan sub-atom kehidupan. Tidak melakukan aktivitas tersebut berarti “mati”. Begitu juga Rebbeca Blomwood, tokoh rekaan dalam film confession of Shopaholic, menjadi salah satu gadis dari jutaan manusia modern yang sudah terjebak dalam kehidupan budaya konsumersime. Aktivitas over belanja sudah berada pada level tertinggi dalam kehidupan kesehariannya, Rebbeca menemukan aktualisasi dirinya saat berbelanja ini-itu. Sebagai figur yang mapan, belanja tanpa brand ternama bisa menjadi masalah besar baginya, untung saja globalisasi menyediakan kartu ajaib bernama kartu kredit. Konsekuensi harga tinggi jadi tidak masalah karena bisa menghutang secara terhormat.

Film yang diangkat dari novel karya Sophie Kinsella dengan judul yang sama memperlihatkan kepada para penonton betapa anehnya perilaku manusia yang adiktif belanja. Tidak berlebihan saya kira ketika banyak scene yang menggambarkan patung-patung di etalase toko menjadi hidup untuk merayu Rebbeca agar segera membeli dan terus membeli. Sampai pada akhirnya, Rebbeca tidak bisa lagi menggunakan kartu-kartu ajaibnya, karena hutang sudah melilitnya. Si penagih, bahasa seramnya debt collector, mengincar Rebbeca ke mana-mana.

 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma