Belanja telah menjadi hobi
kebanyakan manusia di epos modern, bahkan sudah mulai merasuk sel-sel dan sub-atom kehidupan. Tidak melakukan
aktivitas tersebut berarti “mati”. Begitu juga Rebbeca Blomwood, tokoh rekaan
dalam film confession of Shopaholic,
menjadi salah satu gadis dari jutaan manusia modern yang sudah terjebak dalam
kehidupan budaya konsumersime. Aktivitas over belanja sudah berada pada level
tertinggi dalam kehidupan kesehariannya, Rebbeca menemukan aktualisasi dirinya
saat berbelanja ini-itu. Sebagai figur yang mapan, belanja tanpa brand ternama
bisa menjadi masalah besar baginya, untung saja globalisasi menyediakan kartu
ajaib bernama kartu kredit. Konsekuensi harga tinggi jadi tidak masalah karena
bisa menghutang secara terhormat.
Film yang diangkat dari novel
karya Sophie Kinsella dengan judul yang sama memperlihatkan kepada para
penonton betapa anehnya perilaku manusia yang adiktif belanja. Tidak berlebihan
saya kira ketika banyak scene yang
menggambarkan patung-patung di etalase toko menjadi hidup untuk merayu Rebbeca
agar segera membeli dan terus membeli. Sampai pada akhirnya, Rebbeca tidak bisa
lagi menggunakan kartu-kartu ajaibnya, karena hutang sudah melilitnya. Si
penagih, bahasa seramnya debt collector,
mengincar Rebbeca ke mana-mana.




