Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Confession of Shopaholic: Pembacaan Konsumerisme dalam Dunia Fiksi dan Non-Fiksi


Oleh: Dodi Faedlulloh

Re-Narasi

Belanja telah menjadi hobi kebanyakan manusia di epos modern, bahkan sudah mulai merasuk sel-sel  dan sub-atom kehidupan. Tidak melakukan aktivitas tersebut berarti “mati”. Begitu juga Rebbeca Blomwood, tokoh rekaan dalam film confession of Shopaholic, menjadi salah satu gadis dari jutaan manusia modern yang sudah terjebak dalam kehidupan budaya konsumersime. Aktivitas over belanja sudah berada pada level tertinggi dalam kehidupan kesehariannya, Rebbeca menemukan aktualisasi dirinya saat berbelanja ini-itu. Sebagai figur yang mapan, belanja tanpa brand ternama bisa menjadi masalah besar baginya, untung saja globalisasi menyediakan kartu ajaib bernama kartu kredit. Konsekuensi harga tinggi jadi tidak masalah karena bisa menghutang secara terhormat.

Film yang diangkat dari novel karya Sophie Kinsella dengan judul yang sama memperlihatkan kepada para penonton betapa anehnya perilaku manusia yang adiktif belanja. Tidak berlebihan saya kira ketika banyak scene yang menggambarkan patung-patung di etalase toko menjadi hidup untuk merayu Rebbeca agar segera membeli dan terus membeli. Sampai pada akhirnya, Rebbeca tidak bisa lagi menggunakan kartu-kartu ajaibnya, karena hutang sudah melilitnya. Si penagih, bahasa seramnya debt collector, mengincar Rebbeca ke mana-mana.

Melacak Akar Budaya (Ekonomi) Politik Indonesia

Oleh: Dodi Faedlulloh 

Walaupun ujar Karl Marx (1818-1883) menyatakan bahwa segala kehidupan bergantung dari strukutur dasar, yakni ekonomi, sehingga segala yang berada di atasnya (supra-struktur), misal politik, akan sangat dipengaruhi.oleh struktur ekonomi tadi. Bagi kalangan Marxis ortodoks, doktrin tersebut diyakini benar sehingga perlu perjuangan untuk membuktikannya. Namun bila mengamati, sebagaimana yang dijelaskan Louis Althusser (1918 – 1990), seorang filsuf Marxis dari Prancis, yang pandangannya berpengaruh dalam berbagai lini pemikiran Kiri kontemporer, menyatakan bahwa sifat dari struktur dasar terhadap atasnya bersifat over-determisnitik, tidak deterministik ekonomi mutlak. 

Namun dalam kenyataannya, budaya yang bagi kalangan Marxis ortodoks akan dianggap sebagai buah hasil dari corak produksi, tapi pada realitasnya ternyata budaya dan politik, walaupun sesama struktur atas, ternyata justru saling mempengaruhi. Jadi realitas hari ini sudah melampaui dari kedua gagasan tersebut. Hasil pemikiran para pakar umunya, seperti Alagappa (1996), Fukuyama (1996), Lipset (1996), Huntington (1996), Inglehart (2000) juga menyimpulkan bahwa budaya memberikan pengaruh tertentu bagaimana demokrasi - yang mana demokrasi bagian dari politik -, diadopsi oleh berbagai negara. Seperti yang Fareed Zakaria (2003) jelaskan “Culture is important. It can be a spur or a drag, delaying or speeding up change”. 

Simpan Pinjam Berbasis Kesadaran

Oleh: Dodi Faedlulloh, S.Sos.

Kementerian Koperasi dan UKM mencatat jumlah koperasi pada tahun 2011 lalu berjumlah 187.598  unit. Tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut semakin bertambah tahun 2012 ini, jumlah yang luar biasa sebenarnya. Dan data tahun 2009 lalu mencatat 71.365 dari koperasi-koperasi tersebut  merupakan koperasi simpan pinjam ataupun unit simpan pinjam (KSP/USP). Perlu diakui, ranah simpan-pinjam masih dianggap menarik, dengan kata lain juga simpan-pinjam berarti masih dibutuhkan oleh khalayak banyak.

Trending Topic

Oleh : Dodi Faedlulloh

Sepuluh-duapuluh tahun lalu siapa menyangka akan banyak manusia tergiring ke dalam dunia virtual yang sering kita pantengi setiap harinya, media sosial. Satu demi satu menemukan hipperealitasnya di dunia ini, dengan sukarela menggabungkan diri dan membuka sejernih-jernihnya biodata pribadi. Ruang privat dan ruang publik jadi bias. Ada kalanya kegalauan ditumpahkan secara sengaja dengan tendensi yang pelik, bisa ingin agar diperhatikan orang banyak, bisa pula demi ketentraman hati pasca mencurahkan keluh-kesah. Begitu juga dengan kegembiraan, capaian prestasi, dan segala rupa yang riang diteriakan di laman-laman profile. Entah untuk mencapai joussance atau sharing motivasi, dengan bahasa semacam “nih gue bisa gini, lo bisa ngapain?” atau kata-kata santun nan memikat ala nabi-nabi modern bak Mario Teguh. Tak lupa, yang datar-datar pun dikeluarkan dalam media sosial. Lagi makan, nonton film, kebelet pup pun diketik dan disebar-luaskan.

Syahrini : Respon dari Serakan Dunia Maya

Oleh : Dodi Faedlulloh

Siapa yang tidak tahu dengannya? Namanya terus menerus disebut, lebih-lebih saat jadi penerima David Beckham dkk saat datang ke Indonesia. Perilakunya yang terkesan norak, setidaknya hujatan-hujatan dari masyarakat, bahkan dari kalangan selebritis via media sosial cukup merepresentasikan persepsi dan penilaian terhadap satu artis ini.

Dengan dandanan mirip Victoria Adam, istri dari Beckham, dengan jambulnya yang ia beri nama jambul khatulistiwa cukup mengerutkan dahi. Dari mana asal muasal penamaan tersebut. Tapi artis yang dikenal karena sesuatu-nya itu tetap merasa percaya diri dengan tingkah, kalau bahasa anak muda kontemporer, disebut alay. Bahkan ia sempat berstatment Beckham mencuri-curi pandang. “Aku sama Beckham selalu lihat-lihatan mata, eye contact. Dia lihat ke aku dan aku juga," ujarnya ke beberapa media saat wawancara.

Televisi : Total Hegemoni

Oleh : Dodi Faedlulloh

Kini hampir di setiap rumah selalu hadir sebuah kotak ajaib bernama televisi. Tanpa kehadirannya kehidupan manusia seakan-akan menjadi tidak menarik lagi. Menjadi suatu hal yang menarik untuk memperbincangkan atau tepatnya mengkritik keberadaan televisi ditengah kehidupan manusia. Diakui atau tidak televisi telah mampu mengubah kehidupan manusia modern saat ini.

Kotak ajaib itu seakan telah menjadi suatu hal yang suci bagi peradaban manusia. Pemujaan terhadap televisi juga sudah menjadi lumrah. Televisi berhasil meraih posisi yang dijadikan sebagai panduan atau sebagai refrensi dalam kehidupan manusia mulai dari cara mereka berpakaian, makanan dan minuman yang mereka konsumsi, barang-barang yang mereka gunakan, tata rambut, cara bertingkah laku hingga menentukan mana yang baik dan mana yang salah. Manusia menemukan hiperrealitas dalam kotak ajaib itu, seakan-akan apa-apa yang menjadi sajian dalam televisi adalah bentuk nyata kehidupan manusia.

Dampak negatif dari keberadaan televisi sangatlah luas. Lihat saja semenjak adanya televisi, tayangan-tayangan semacam aksi kekerasan, erotisme dan pornografi menjadi hal yang lumrah. Celakanya lagi tayangan-tayangan seperti itu seringkali disaksikan oleh anak-anak. Akan sangat mudah lah dalam merusak generasi bangsa oleh karena satu hal saja : televisi.

 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma