Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Menentukan Arah Pendidikan Koperasi Mahasiswa

Oleh: Dodi Faedlulloh

Pendidikan dalam koperasi adalah nyawa. Tanpanya koperasi hanya tubuh mati.  Maka dari itu seluruh koperasi, apapun jenisnya, wajib menyelenggarakan pendidikan kepada para anggota dan seluruh elemen organisasinya, bahkan perlu ekstensifikasi pendidikan ke khalayak yang lebih luas. Pendidikan inilah yang menjadi jalan, dan pemandu ke mana arah koperasi bergerak. Namun sayang situasi ideal koperasi dengan pendidikannya ini masih menjadi PR besar bagi para pegiat koperasi.

Koperasi Mahasiswa (Kopma) sebagai ruang bagi para mahasiswa untuk  belajar dan  berpraktik koperasi, secara das solen, adalah momentum untuk mengasah pengalaman dan pengetahuan berkoperasi. Namun das sein menunjukan hal yang berbeda. Sejauh yang saya amati, masih banyak kopma-kopma yang gagap dalam menyelenggarakan pendidikan koperasinya. Konsep pendidikannya tidak terang, arahnya tidak terorientasi pada peningkatan kualitas, dan kurikulum yang dibuat terkadang ahistoris, dan bergeser jauh dari episteme koperasi itu sendiri. Tak heran, dengan situasi demikian, kopma malah melahirkan para pejuang kapitalisme selanjutnya. Karena kopma terjebak dalam aktulisasi kewirausahaan dan praktik bisnis semata yang minus refleksi filosofis koperasi.

Berpikir Kritis sebagai Jembatan Aksi Nyata

Oleh: Dodi Faedlulloh

Disadari atau tidak, tak jarang sebagian dari kita, sebagai manusia, melulu bertanya tentang apa yang dilihat, didengar dan dirasa. Saat ada peristiwa A, lantas bertanyalah kita mengapa terjadi peristiwa tersebut? Ketika mengalami musibah, kemudian hati kita pun terarah pada tanya bagaimana musibah tersebut bisa menimpa kita. Dan sebentuk pertanyaan-pertanyaan lainnya yang secara tiba-tiba hadir dalam nalar kita. Hal tersebut tentu lumrah, natural, dan fitrah karena pada dasarnya manusia senantiasa selalu berpikir, berpikir dan bepikir. Tapi sayangnya tak jarang pula kita memilih berhenti dalam proses penggalian pertanyaan tersebut, akhirnya jatuh pada kesimpulan yang belum tuntas, bias, tidak terarah, parsial, dan juga malah emosi pribadi menjadi bumbu dalam proses berpikir kita. 


Seorang filusuf Yunani, Socrates memberi satu nasihat penting kepada kita. Ujarnya, “Kehidupan yang tidak diperiksa, tidaklah pantas untuk kita hidupi.” Jelas nasihat ini, secara reflektif menegur manusia yang tidak menyempatkan waktu dan tenaganya untuk berkontemplasi, merenungkan diri atas apa yang terjadi atas hidupnya. Secara implisit, Socrates hendak mengajak kita untuk berusaha berpikir secara kritis, baik dalam rentang waktu lampau, konteks hari ini maupun yang sifatnya futuristik. Kita perlu melakukan perenungan secara seksama dan terus menerus untuk menuju kualitas kehidupan yang lebih baik. 

Mahasiswa dan Buku: Merajut kembali Tali Kasih

Oleh : Dodi Faedlulloh

Ada hantu berkeliaran di kampus, hantu keengganan mahasiswa untuk membaca buku

Sebagai kaum intelektual, mahasiwa dibebankan untuk menjadi mahluk yang ’serba tahu’. Keserba-tahuan ini mahasiswa akan dapatkan di kampusnya baik itu di dalam ataupun diluar kelas. Dikelas, mahasiswa belajar tidak menghabiskankan waktu yang lama. Sekitar dua-tiga jam sehari, dan itu pun dengan sistem pendidikan yang bertahun-tahun secara substansi tidak pernah berubah, cendrung membuat proses belajar (mengajar?) monoton. Satu arah, handout oriented, kaku, dan mahasiswa selalu menjadi korban kekerasan simbolik yang dimiliki oleh sang pengajar (dosen).

Bila kondisi dalam kelas cendrung demikian, lantas apa yang akan diperoleh mahasiswa ? Sebatas bahan ajaran dikelaskah ? Lalu pertanyaannya : akankah cukup ? Tentunya tidak. Dunia kampus memang tak seperti halnya sekolah, mahasiswa sejatinya harus bisa menjadi pusat dalam proses belajar. Mahasiswa harus mampu berinovasi dan selalu mencari tahu tentang apa yang berhubungan dengan dunia intelektualitasnya. Proses pencarian tahu inilah yang membuat tidak cukup bila belajar hanya ada didalam kelas.

Disetiap kampus selalu berdiri perpustakaan-perpustakaan yang menghadirkan literasi multi-presfektif dan multi-science. Diperpustakaan pastinya selalu hadir ratusan bahkan ribuan buku yang sudah bersusah payah melakukan rayuan-rayuan kepada mahasiswa untuk segera menjamah dan bercinta dengannya. Namun sayang, tidak semua mahasiswa mau menjamah buku untuk penyegaran rohani intelektualnya. Adapun hal yang sangat memaksa mahasiswa untuk membaca buku tiada lain bila ada tugas-tugas yang dibuat oleh dosennya. Untuk kasus ujian, mahasiswa cukup membaca bahan ajar satu malam sebelum waktu ujian. Tragis !.
 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma