Pendidikan dalam koperasi adalah nyawa. Tanpanya koperasi hanya tubuh mati. Maka dari itu seluruh koperasi, apapun jenisnya, wajib menyelenggarakan pendidikan kepada para anggota dan seluruh elemen organisasinya, bahkan perlu ekstensifikasi pendidikan ke khalayak yang lebih luas. Pendidikan inilah yang menjadi jalan, dan pemandu ke mana arah koperasi bergerak. Namun sayang situasi ideal koperasi dengan pendidikannya ini masih menjadi PR besar bagi para pegiat koperasi.
Koperasi Mahasiswa (Kopma) sebagai ruang bagi para mahasiswa untuk belajar dan berpraktik koperasi, secara das solen, adalah momentum untuk mengasah pengalaman dan pengetahuan berkoperasi. Namun das sein menunjukan hal yang berbeda. Sejauh yang saya amati, masih banyak kopma-kopma yang gagap dalam menyelenggarakan pendidikan koperasinya. Konsep pendidikannya tidak terang, arahnya tidak terorientasi pada peningkatan kualitas, dan kurikulum yang dibuat terkadang ahistoris, dan bergeser jauh dari episteme koperasi itu sendiri. Tak heran, dengan situasi demikian, kopma malah melahirkan para pejuang kapitalisme selanjutnya. Karena kopma terjebak dalam aktulisasi kewirausahaan dan praktik bisnis semata yang minus refleksi filosofis koperasi.


