Tampilkan postingan dengan label Bhineka Tunggal Ika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhineka Tunggal Ika. Tampilkan semua postingan

Kembali ke Bhineka Tunggal Ika

Oleh : Dodi Faedlulloh

Saat saya masih SD, seringkali guru-guru saya menjelaskan bahwasanya semboyan negeri ini adalah bhineka tunggal ika. “Kita harus bangga nak, walaupun kita berasal dari banyak perbedaan namun kita bisa bersatu, kita mempunyai tujuan yang sama untuk negeri ini Indonesia !”, kurang lebih kalimat tersebut yang sering terlontar dari mulut guru-guru saya. Karena kata-kata itu diucapkan berulang kali sampai akhirnya masuk dibawah alam sadar saya tentang kebhinekaan negeri ini. Sembari disuguhi gambar-gambar tentang kekayaan kebudayaan Indonesia yang penuh warna seperti rumah adat, pakaian dan senjata tradisional khas masing-masing daerah saya pun mengangguk-anggukan kepala tanda kemengertian saya. 

Saya yang saat itu sekitar berumur tujuh tahunan sudah mulai merasakan kebanggan yang luar biasa atas negeri ini. “Mah, Indonesia hebat ya, walau negeri ini luas dari Sabang sampai Merauke, orangnya tuh macem-macem tapi tetap bisa hidup damai ?”, itulah statement nasionalis perdana yang saya ucapkan kepada ibu tercinta, lalu ibu saya pun member tanggapan pernyataan saya itu dengan sebuah senyuman manis, sebagai simbolisasi kebahagiaan beliau karena memiliki anak yang sudah mampu berbicara demikian. Mungkin saat itu saya masih lucu-lucunya, jadi ketika saya dengan semangatnya meminta diajak untuk pergi jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia yang pernah saya dengar dikelas seperti Sabang, Merauke, Balikpapan, dan Makassar, Ibu saya pun langgsung memberiakan jawaban dengan kalimat : “iya, nanti mamah ajak kesana”.
 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma